Kolom Tekno

Serangan Balasan Iran: Rudal Kheibar Shekan Hantam Pangkalan AS di Yordania

Ringkasan

  • Iran menembakkan rudal balistik Kheibar Shekan ke pangkalan udara Amerika Serikat di Azraq, Yordania, pada Kamis (16/7) dini hari sebagai aksi balasan atas serangan AS yang menewaskan 168 anak di Minab serta memaksa evakuasi pasien kanker di Ahvaz.

Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) kembali melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Sasaran kali ini adalah pangkalan udara Azraq yang dihujani rudal balistik Kheibar Shekan pada Kamis (16/7) dini hari. Serangan itu diklaim sebagai aksi balasan langsung atas dua insiden yang melibatkan serangan AS terhadap warga sipil Iran.

Dalam pernyataan resmi yang ditujukan kepada rakyat Yordania, IRGC menegaskan serangan itu menghancurkan landasan parkir jet tempur AS serta pusat komando dan kendali Amerika yang baru dibangun di Asia Barat. "Kami menargetkan dan menghancurkan fasilitas-fasilitas tersebut dengan rudal balistik Kheibar Shekan," demikian bunyi pernyataan IRGC.

Mengapa serangan ini dilancarkan? IRGC menyebutnya sebagai respons atas serangan AS pada Maret lalu yang menewaskan 168 anak di sebuah sekolah di Minab. Selain itu, serangan AS sebelumnya juga memaksa evakuasi paksa pasien anak penderita kanker di Ahvaz. IRGC mendesak rakyat Yordania untuk tidak membiarkan tanah mereka digunakan "untuk kejahatan terhadap anak-anak".

Kheibar Shekan sendiri bukan rudal baru. Rudal balistik jarak menengah berbahan bakar padat ini pertama kali diperkenalkan pada 2022 dan merupakan generasi ketiga dari pengembangan rudal Iran. Dengan panjang 11,4 meter, rudal ini mampu menjangkau target hingga 1.450 kilometer.

Keunggulan utama Kheibar Shekan terletak pada fleksibilitas dan akurasinya. Dilengkapi sistem pemandu satelit dan hulu ledak yang dapat bermanuver, rudal ini memiliki tingkat akurasi tinggi. Hulu ledaknya berbobot 550 kilogram dan mampu melesat dengan kecepatan Mach 2 hingga Mach 3 saat mendekati sasaran. Kecepatan ekstrem itu membuatnya sulit dicegat, bahkan oleh sistem pertahanan udara Patriot buatan AS maupun David’s Sling milik Israel.

Ukurannya yang ringkas juga menjadi nilai tambah. Kheibar Shekan dapat ditembakkan dari berbagai platform, termasuk kendaraan komersial biasa seperti truk sipil. Hal ini membuat rudal sulit dideteksi dan dihancurkan sebelum diluncurkan.

Rancangan rudal ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari Angkatan Udara IRGC. Pada 2022, rudal Kheibar Shekan diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Mohammad Bagheri, yang belakangan tewas akibat serangan Israel.

Serangan ke Yordania bukanlah debut operasional Kheibar Shekan. Rudal ini dilaporkan pertama kali digunakan dalam operasi "Sadiq Promise 1" dan "Sadiq Promise 2" pada April dan Oktober 2024. Saat itu, Iran meluncurkan sekitar 180 rudal ke arah Israel sebagai respons atas pembunuhan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, dan komandan IRGC, Abbas Nilforoushan.

Dari perspektif militer, serangan ini menunjukkan kemampuan Iran untuk menyerang target tetap pada jarak lebih dari 1.000 kilometer dengan presisi tinggi. Ini sekaligus menguji efektivitas sistem pertahanan udara AS di Timur Tengah.

Diplomasi kawasan menjadi taruhan. Yordania, yang selama ini berperan sebagai penstabil, kini terjepit di antara konflik Iran-AS. Serangan ini bisa memicu respons militer AS yang lebih keras, atau sebaliknya, membuka ruang dialog.

Lalu, apa relevansinya bagi Indonesia? Meski terletak jauh dari pusat konflik, eskalasi di Timur Tengah selalu berdampak langsung pada perekonomian global, termasuk harga minyak yang mempengaruhi APBN Indonesia. Selain itu, peningkatan kemampuan rudal balistik di kawasan patut menjadi perhatian bagi pengembangan sistem pertahanan Indonesia. Teknologi rudal berbahan bakar padat seperti yang digunakan Kheibar Shekan bisa menjadi referensi bagi program alutsista dalam negeri.

Ke depan, Iran kemungkinan akan terus memanfaatkan Kheibar Shekan untuk menunjukkan kekuatan militernya. Sementara itu, AS dan Israel akan mengevaluasi kemampuan intersepsi sistem pertahanan mereka. Krisis ini masih jauh dari titik terang dan bisa berlanjut dengan serangan balasan di waktu dekat.

Mengapa Ini Penting

Serangan ini membuktikan peningkatan presisi dan fleksibilitas rudal balistik Iran yang sulit diintersep. Bagi Indonesia, hal ini menjadi pengingat untuk terus memodernisasi sistem pertahanan udara, terutama menghadapi ancaman rudal balistik. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah selalu berpotensi mengganggu stabilitas harga minyak yang berdampak langsung pada perekonomian Indonesia. Dari sisi teknologi, rudal berbahan bakar padat seperti Kheibar Shekan menunjukkan tren baru dalam pengembangan misil yang lebih mobile dan sulit dideteksi—sebuah pelajaran berharga bagi program pertahanan dalam negeri.

Sumber Asli
CNN Indonesia Teknologi
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit