Thomas Ricker, editor senior di The Verge, mengubah pandangannya tentang sepeda gunung bertenaga listrik (eMTB) setelah mencoba Amflow PX Carbon Pro beberapa pekan lalu di Eropa. Pengalaman itu menepis anggapan bahwa pengguna eMTB adalah 'penipu' karena bantuan motor, sekaligus menunjukkan bahwa teknologi ini justru memperluas keseruan olahraga tersebut.
Selama bertahun-tahun, Ricker termasuk kelompok puritan yang menuding pengendara eMTB sebagai pihak tak jujur saat melewati tanjakan curam. Sikap itu berubah ketika ia pertama kali menunggangi Amflow PX Carbon Pro yang dibekali motor M2S buatan Avinox, anak usaha DJI yang membuat Bosch dan Specialized waspada. Motor berukuran sangat ringkas dan ringan itu tidak mengubah Ricker menjadi pengendara cepat, melainkan membantu menutupi kelemahan teknik pedalannya.
Dunia mountain biking memang punya sejarah panjang menolak inovasi. Frame suspensi penuh, rem cakram, tiang jok dropper, hingga roda berdiameter 29 inci sempat dicerca karena dianggap membuat olahraga terlalu mudah. Kini, fitur-fitur tersebut menjadi standar pada banyak sepeda gunung, termasuk model Amflow yang diuji Ricker. Motor bertorsi tinggi hanyalah evolusi berikutnya yang secara alami diterima seiring waktu.
Ricker mulai menekuni mountain biking saat pandemi COVID-19 bersama teman-temannya yang belajar dari YouTube. Dua tahun berselang, kemampuannya masih mentok di level pemula dan sebuah kecelakaan parah membuat bahunya keluar dari sendi 'ke arah tak wajar' menurut dokter. Sejak saat itu, rasa percaya diri di jalur off-road hilang. Kehadiran motor listrik mengembalikan kendali dan rasa aman yang lama hilang.
Di Eropa, eMTB tidak memiliki throttle dan bantuan pedal berhenti di kecepatan 25 km/jam dengan daya keluaran berkesinambungan maksimal 250 watt. Angka ini lebih rendah daripada e-bike Kelas 1 di Amerika Serikat, apalagi Kelas 3 yang nyaris mirip sepeda motor. Pada jalur lurus, pesepeda biasa justru kerap melaju di atas 30 km/jam, membuat Ricker kewalahan mengimbangi bobot eMTB-nya yang lebih berat.
Motor Avinox M2S pada Amflow PX Carbon Pro mampu menghasilkan torsi 150 Nm dan boost sementara 1.500 watt untuk mendaki tanjakan panjang. Berkat rangka karbon, bobot total sepeda hanya 20,6 kg, di bawah rata-rata eMTB Eropa yang mencapai 22–27 kg. Desain ramping membuat sepeda ini nyaris tak terlihat sebagai eMTB. Bantuan itu memberi Ricker keleluasaan memilih tingkat usaha: turbo saat lelah, atau eco saat ingin detak jantung mendekati batas.
Bagi pengendara Indonesia, regulasi eMTB di Eropa kontras dengan kondisi lokal. Kementerian Perhubungan mengategorikan sepeda listrik sebagai kendaraan tidak bermotor dengan batas kecepatan 25 km/jam, namun jalur gunung di Indonesia mayoritas berstatus jalan kecil desa atau hutan lindung yang belum punya aturan spesifik eMTB. Komunitas pedalaman seperti di Bali dan Jawa Barat mulai memakai eMTB impor untuk trabas, meski harga unit minimal Rp 60 juta membuatnya eksklusif.
Produsen dalam negeri seperti Polygon dan United Bike belum merilis eMTB full-suspension setara Amflow, namun beberapa model hardtail listrik lokal sudah beredar di bawah Rp 20 juta. Ketiadaan motor mid-drive bertorsi tinggi buatan lokal membuat pengalaman 'force multiplier' ala Avinox belum tersedia di kelas terjangkau. Importir pun terkendala pajak barang mewah untuk sepeda di atas Rp 30 juta.
'Motor itu memberi saya kendali ekstra saat pengereman berlebih di tikungan, lalu akselerasi terkendali keluar tikungan,' tutur Ricker mengenang sesi uji coba. Ia menambahkan bahwa torsi instan menyelamatkannya saat momentum putus di section teknis akibat teknik buruk, sekaligus menjembatani jarak dengan rider senior yang biasanya meninggalkannya dalam 10 menit pertama.
Ricker mengaku lebih sering tersenyum dan mau menambah putaran lintasan sejak pakai eMTB, meski merasa sedikit malu melintasi rider muda di tanjakan. Ia tetap rendah hati dan tidak mengklaim gelar King of the Mountain di Strava. Epifani itu terjadi di sepeda berharga 10.000 dolar, tetapi Avinox sudah menggandeng 60 merek global sehingga harga bisa turun; CRUSSIS e-Hard 11.11 dijual sekitar 4.000 dolar dengan motor sama.
Tren eMTB diproyeksikan makin masif seiring Avinox memasok merek budget seperti Ride1Up dan Aventon. Ricker menegaskan pengguna tidak butuh rangka karbon lima digit untuk merasakan manfaatnya: yang penting lebih sedikit penderitaan, lebih banyak lap, dan senyum lebar. Motor tidak membuat seseorang jadi rider hebat, tapi bisa memunculkan keinginan menjadi lebih baik.
Di Indonesia, masuknya Avinox ke Asia Tenggara dalam dua tahun ke depan berpotensi memicu komunitas eMTB baru di kawasan wisata alam. Pelaku wisata berbasis trail di Lombok atau Danau Toba dapat menawarkan sewa eMTB sebagai alternatif eco-tourism. Tanpa dukungan jalur legal dan servis motor mid-drive, adopsi massal masih terhambat.