Amazon menawarkan televisi seni Samsung The Frame ukuran 55 inci dengan harga 697,99 dolar AS, atau sekitar 200 dolar AS lebih murah dari harga rata-rata produk tersebut. Penawaran itu berlaku untuk model keluaran 2025 yang dikirimkan langsung melalui platform belanja daring tersebut kepada konsumen di wilayah tertentu.
The Frame bukan televisi 4K biasa. Keunggulan utamanya terletak pada tampilan saat perangkat tidak digunakan untuk menonton. Layar berubah menjadi bingkai lukisan digital yang menampilkan karya seni, lengkap dengan bingkai fisik dan lapisan matte agar tampak seperti kanvas asli而非 layar mengkilap pada televisi konvensional.
Model 2025 yang saat ini diobral mengusung panel 4K QLED dengan dukungan refresh rate 144Hz dan fitur variable refresh rate. Perangkat juga mendukung format HDR10 Plus untuk rentang kontras warna yang lebih luas saat memutar konten video berkualitas tinggi.
Sistem koneksi pada The Frame dirancang minimalis. Seluruh kabel tersambung ke kotak One Connect yang dipisah dari layar. Kotak tersebut menampung empat port HDMI, dua port USB-A, colokan koaksial untuk antena HD, koneksi Ethernet, serta output audio optik.
Dua port HDMI mendukung resolusi 4K pada 60Hz, satu port menyediakan eARC untuk soundbar, dan satu port lainnya siap memanjakan gamer dengan 4K 144Hz. Desain ini memudahkan pengguna merapikan kabel tanpa merusak estetika ruangan.
Harga diskon ini muncul di tengah tren televisi seni yang perlahan merangkak naik di pasar global. Produsen elektronik berlomba menghadirkan perangkat yang tidak hanya berfungsi sebagai layar hiburan, tetapi juga elemen dekorasi rumah. Samsung memposisikan The Frame sebagai jembatan antara kebutuhan menonton dan selera estetika penghuni rumah.
Bagi pembaca Indonesia, penawaran Amazon tersebut sulit diakses langsung karena keterbatasan pengiriman resmi ke dalam negeri. Harga The Frame di pasar lokal umumnya berada jauh di atas rekomendasi retail AS, menyentuh belasan juta rupiah untuk ukuran 55 inci melalui distributor resmi maupun ritel elektronik besar.
Kendati demikian, minat terhadap televisi bergaya galeri mulai terlihat di kalangan kelas menengah atas di Jakarta dan kota besar lainnya. Beberapa perusahaan interior lokal mulai memasukkan The Frame ke dalam paket desain hunian modern, meski belum setara popularitas televisi gaming atau smart TV standar.
Brad Bourque, jurnalis teknologi yang telah menulis untuk Digital Trends dan WIRED, mencatat bahwa televisi seni seperti The Frame memiliki kelemahan dibanding televisi seharga setara. Tingkat kecerahan maksimal lebih rendah, akurasi warna dan level hitam kurang memuaskan, serta kualitas gambar secara umum tertinggal dari panel premium konvensional.
Menurut Bourque, catatan tersebut penting bagi konsumen yang mengutamakan pengalaman menonton film atau bermain game dibanding tampilan estetis saat televisi mati. The Frame tetap menjadi pilihan bila pengguna ingin menghindari kesan ruang tamu yang didominasi layar hitam besar.
Ke depan, persaingan di segmen televisi seni diprediksi makin ketat seiring masuknya pemain baru dari Tiongkok dan Korea. Penurunan harga komponen panel serta fitur art mode berbasis langganan bisa membuat kategori ini lebih terjangkau bagi kelas menengah.
Di Indonesia, edukasi pasar menjadi kunci. Konsumen perlu memahami bahwa televisi seni menukar sebagian performa visual dengan nilai dekoratif. Tanpa strategi harga yang tepat dari distributor lokal, The Frame akan tetap menjadi barang mewah而非 pilihan praktis.