Samsung Display secara resmi memamerkan inovasi layar lipat terbaru bernama Flex Titanium. Teknologi ini dirancang untuk perangkat foldable generasi mendatang dengan menjanjikan bodi lebih ramping serta ketahanan benturan lebih baik.
Struktur utama Flex Titanium mengombinasikan lapisan film paduan titanium dan pelat titanium yang dapat dilipat. Film setebal sepertiga helai rambut manusia itu diletakkan di bawah panel OLED untuk menopang lengkungan layar. Sementara pelat di bawahnya menjaga permukaan tetap rata.
Pengembangan ini merupakan kelanjutan dari tujuh generasi perangkat Galaxy Fold yang telah dibangun Samsung. Selama kurun waktu tersebut, perusahaan asal Korea Selatan itu terus menyempurnakan mekanisme engsel dan material penyangga layar. Flex Titanium menjadi jawaban atas keluhan bekas lipatan yang mengganggu pengalaman visual.
Material titanium dipilih karena memadukan kekuatan tinggi dengan bobot ringan. Paduan ini ideal untuk perangkat yang kerap dibuka dan ditutup berkali-kali. Kendati demikian, memasukkan logam kaku ke dalam struktur layar yang sangat tipis merupakan tantangan rekayasa tersendiri bagi para insinyur.
Samsung juga memberi sinyal akan menghadirkan faktor bentuk baru pada acara Galaxy Unpacked di London pekan depan. Tema "A New Shape Unfolds" menandakan bahwa ponsel lipat bergaya buku dengan lebar di antara Z Flip dan Z Fold akan diperkenalkan.
Bagi industri smartphone global, langkah ini mempertegas persaingan segmen premium foldable. Di Indonesia, pasar ponsel lipat masih didominasi kelas atas dengan harga di atas Rp20 juta. Kehadiran layar lebih tahan lama berpotensi menarik konsumen yang selama ini ragu karena masalah crease.
Pengguna lokal kerap mengeluhkan bekas lipatan pada Galaxy Z series pertama hingga ketiga. Kerusakan layar akibat benturan juga menjadi risiko mahal. Inovasi Flex Titanium yang mengurangi celah udara dan meningkatkan kekakuan dapat mengurangi kecemasan tersebut, meski harga awal diprediksi tetap tinggi.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pembeli, tetapi juga ekosistem distributor resmi dan kompetitor seperti Oppo atau Vivo yang sudah memasarkan foldable di Tanah Air. Jika Samsung berhasil menekan biaya produksi, tren material titanium bisa merambah ke perangkat kelas menengah dalam beberapa tahun.
"Melalui penerapan lubang berpola mikro pada bagian pelipatan pelat titanium, kami berhasil menghadirkan fleksibilitas sekaligus daya tahan yang kuat," ujar Corporate EVP sekaligus Head of Mobile Display Product Development Team Samsung Display, Kyung-Jin Yoo. Pernyataan tersebut dikutip dari laporan GSMArena pada 15 Juli 2026.
Kyung-Jin menambahkan bahwa arsitektur layar beresolusi tinggi dan material organik baru akan memaksimalkan efisiensi daya. Kombinasi itu disebut akan memperkuat daya saing perangkat Galaxy foldable generasi berikutnya di pasar internasional maupun domestik.
Langkah berikutnya bagi Samsung adalah membuktikan klaim tersebut di ajang London. Perangkat dengan desain lebih lebar diproyeksikan menjadi etalase pertama Flex Titanium. Jika sukses, teknologi ini bakal menjadi standar baru bagi ponsel lipat pesaing.
Tren ke depan menunjukkan material logam tipis tidak lagi terbatas pada rangka, tetapi merambah ke dalam layar itu sendiri. Di Indonesia, adopsi massal mungkin baru terjadi saat harga komponen turun. Namun, bagi penggemar teknologi, era layar lipat yang lebih awet sudah di ambang pintu.