Kolom Tekno

Samsung Pasang Amazon Music Bawaan di Galaxy, Pengguna Resah soal Bloatware

Ringkasan

  • Samsung menambah Amazon Music ke aplikasi bawaan Galaxy menjelang Galaxy Unpacked.
  • Kebijakan ini memicu keresahan soal bloatware dan ruang memori.

Samsung resmi memasukkan aplikasi Amazon Music ke dalam daftar perangkat lunak bawaan pada ponsel dan tablet Galaxy terbaru. Kebijakan ini diumumkan menjelang pelaksanaan acara Galaxy Unpacked pekan depan, dan langsung memicu perdebatan mengenai praktik bloatware di ekosistem Android.

Langkah tersebut menyatukan Amazon Music dengan deretan aplikasi pihak ketiga yang sudah tertanam sejak pertama kali perangkat diaktifkan. Samsung dan Amazon menawarkan kompensasi berupa langganan gratis Amazon Music Unlimited selama tiga bulan bagi pengguna yang mengunduh aplikasi lewat Galaxy Store. Sayangnya, penawaran itu hanya berlaku jika diklaim dalam waktu 12 bulan ke depan, dan akan otomatis diperpanjang dengan biaya 13 dollar AS per bulan bila tidak dibatalkan.

Praktik memuat aplikasi tambahan di perangkat baru bukanlah hal asing bagi Samsung. Sebelum kedatangan Amazon Music, Galaxy sudah dibekali sejumlah aplikasi seperti Facebook, Instagram, OneDrive, LinkedIn, hingga Spotify. Total ruang penyimpanan yang terpakai oleh perangkat lunak bawaan itu bisa melebihi 1 gigabita, angka yang cukup berarti bagi pengguna dengan varian memori terbatas.

Kemitraan antara produsen perangkat keras dan penyedia layanan digital memang menjadi strategi bisnis yang umum. Samsung mendapatkan insentif finansial dari pihak ketiga, sementara Amazon memperluas jangkauan pengguna tanpa harus mengandalkan toko aplikasi mandiri. Namun, model ini kerap mengorbankan kenyamanan pengguna yang menginginkan perangkat bersih dari instalasi tak dikehendaki.

Apple kerap dijadikan tolok ukur karena iPhone tidak menyertakan perangkat lunak pihak ketiga secara bawaan. Perbedaan pendekatan ini membuat Samsung kerap mendapat sorotan, terutama dari konsumen yang membandingkan pengalaman penggunaan sistem operasi murni dengan antarmuka yang sarat aplikasi tambahan.

Sebagian besar aplikasi bawaan di Galaxy dapat dihapus sepenuhnya setelah perangkat diatur. Akan tetapi, beberapa aplikasi seperti Facebook hanya bisa dinonaktifkan, sehingga berkas tertentu tetap menempati memori internal meski tidak aktif. Kondisi itu memperlihatkan bahwa kendali pengguna atas perangkatnya belum sepenuhnya mutlak.

Bagi pembaca di Indonesia, isu bloatware memiliki bobot tersendiri. Pasar ponsel pintar Tanah Air didominasi oleh perangkat kelas menengah ke bawah dengan kapasitas memori terbatas. Kehadiran aplikasi bawaan yang tidak dapat dihapus total memperberat beban penyimpanan dan berpotensi memperlambat kinerja perangkat dalam jangka panjang.

Di Indonesia, layanan musik streaming seperti Spotify dan Joox sudah lebih dulu menguasai preferensi pengguna. Masuknya Amazon Music sebagai aplikasi bawaan Galaxy diprediksi sulit menggeser kebiasaan mendengar musik masyarakat lokal, kecuali penawaran gratis tiga bulan mampu menarik minat segmen pengguna eksperimental.

Sam Rutherford, penulis di Engadget, menyoroti bahwa langkah Samsung menambah aplikasi bawaan tidak akan terlihat elok jika dibandingkan dengan pendekatan Apple. Ia berharap Samsung tidak memblokir opsi penghapusan aplikasi tersebut agar pengguna tetap leluasa mengatur perangkat mereka.

Kebijakan ini mencerminkan arah kolaborasi antara vendor hardware dan layanan cloud yang semakin intens. Produsen ponsel tidak lagi sekadar menjual alat komunikasi, melainkan juga berperan sebagai saluran distribusi bagi ekosistem digital mitra mereka.

Ke depan, pengguna Galaxy di Indonesia perlu lebih waspada terhadap pengaturan langganan otomatis yang menyertai promo aplikasi bawaan. Pembersihan aplikasi saat pertama kali setup perangkat akan menjadi kebiasaan penting demi memaksimalkan ruang simpan dan performa.

Tren pre-installed app diproyeksikan bertambah seiring meningkatnya tekanan margin bisnis perangkat keras. Tanpa regulasi yang jelas dari otoritas perlindungan konsumen, pengguna akan terus berada pada posisi tawar lemah terhadap kehadiran bloatware.

Mengapa Ini Penting

Regulasi perlindungan konsumen di Indonesia belum menyentuh batas minimal kontrol aplikasi bawaan, sehingga praktik bloatware berpotensi merugikan pengguna perangkat entry-level. Dominasi memori oleh aplikasi tak terpakai mempercepat obsolesensi perangkat dan menekan literasi hak digital masyarakat. Tanpa tekanan publik, vendor akan terus menormalisasi penanaman software komersial sebagai beban tersembunyi dalam harga jual ponsel.

Sumber Asli
Engadget
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit