Lionel Messi kembali mencuri perhatian saat Argentina menyingkirkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026, Kamis (16/7) dini hari WIB, lewat perannya merancang dua gol kemenangan. Di balik aksi tersebut, penampilan sang maestro yang kerap terlihat melamun atau berjalan santai rupanya bukan karena kehilangan fokus, melainkan strategi kognitif berbasis neurosains.
Mantan bintang Barcelona itu tercatat hanya menghabiskan 37 persen waktunya untuk berlari selama turnamen, sementara 63 persen pergerakannya berupa jalan kaki. Data dari The Athletic menunjukkan Messi juga memakai 25 persen sisa waktu pertandingan hanya untuk berdiri tanpa banyak aktivitas fisik. Fenomena tersebut sempat memicu tanya publik, namun para pakar psikologi olahraga memandangnya sebagai manuver otak yang disengaja.
Gaya bermain Messi yang tampak lambat memang sudah melekat sejak masa keemasan di Barcelona. Ia kerap menahan diri di area tengah, membiarkan lawan menguasai bola, dan baru bergerak saat momentum tepat. Kebiasaan itu kini mendapat penjelasan ilmiah bahwa sang pemain sedang memproses informasi secara luas daripada terpaku pada bola.
Eric Zlmer, psikolog olahraga yang menulis di Scientific American, mengamati arah pandang Messi tidak selalu tertuju pada bola saat rekan setimnya sedang memegang kendali. Penelitian pencitraan saraf membuktikan bahwa saat pikiran seseorang mengembara, otak tidak benar-benar istirahat. Organ tersebut justru bekerja dengan pola berbeda untuk menyerap situasi di sekitarnya.
Jeda kognitif yang dilakukan Messi memberi kesempatan otak beristirahat sejenak dari tekanan pertandingan 90 menit lebih. Cara ini membantunya mempertahankan ketajaman saat dibutuhkan dan melihat celah yang luput dari pemain lain. Zlmer menyimpulkan sang kapten Argentina memiliki kemampuan kognitif tingkat dunia melalui pengendalian pikiran yang terarah.
Bagi pembaca di Indonesia, temuan ini relevan dengan tren penerapan sport science di klub lokal. Beberapa akademi sepak bola di Jakarta dan Yogyakarta mulai memasukkan pelatihan mental ke dalam kurikulum, namun pemahaman soal pengembaraan pikiran terkendali belum banyak diajarkan. Padahal, pendekatan serupa bisa menekan kelelahan psikis atlet muda yang sering dipaksa fokus penuh tiap detik.
Di sisi teknologi, aplikasi pelacak performa seperti Catapult dan GPS wearable sudah dipakai tim Liga 1 untuk memantau jarak lari. Data tersebut biasanya digunakan pelatih untuk menilai tingkat kerja pemain. Ke depan, integrasi sensor eye-tracking dan analitik otak dapat membantu tim Indonesia membedakan antara pemain yang benar-benar lelah dengan yang sedang melakukan recovery kognitif.
Zlmer menegaskan bahwa mengendalikan pikiran yang mengembara secara aktif sangat bermanfaat dalam olahraga performa tinggi. Ia mencontohkan rekor 21 gol Messi di Piala Dunia sebagai bukti bahwa melawan insting untuk terus menegang di bawah tekanan sering kali memberi hasil terbaik. Strategi ini berlaku tidak hanya bagi atlet, tetapi juga pekerja kreatif.
Rekam jejak Messi di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa arsitektur dua gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez lahir dari momen di mana ia tampak tidak terlibat. Pengamatan lapangan secara luas membuatnya mampu mengirim umpan yang memecah pertahanan Inggris di menit krusial. Hal itu membuktikan efektivitas metode yang kerap disalahartikan sebagai kemalasan.
Ke depan, pendekatan berbasis neurosains diprediksi makin lazim di dunia kepelatihan elite. Federasi sepak bola negara maju kemungkinan besar akan memasukkan modul recovery mental ke dalam program nasional. Indonesia dapat mengadopsi langkah serupa lewat kolaborasi antara Kemenpora, universitas, dan startup teknologi olahraga lokal.
Tren penggunaan biofeedback dan meditasi terarah juga akan meningkat seiring turunnya harga perangkat pelacak saraf. Klub di daerah dapat memanfaatkan aplikasi berbasis cloud untuk menganalisis pola istirahat kognitif pemain tanpa harus membeli alat mahal. Dengan demikian, rahasia di balik 'bengong'-nya Messi dapat menjadi metode latihan yang demokratis bagi sepak bola Indonesia.