Boston Dynamics memperluas pemanfaatan robot berkaki empat Spot ke sektor logistik. Perusahaan asal Amerika Serikat itu kini menguji aksesori sabuk pengangkut yang memungkinkan Spot membawa paket dari kendaraan dan menurunkannya secara otonom di depan pintu pelanggan.
Dalam video demonstrasi, seorang pengemudi memindahkan paket ke punggung Spot yang dilengkapi konveyor. Robot anjing tersebut kemudian berjalan menuju teras rumah dan menurunkan muatan tanpa bantuan manusia. Inovasi ini dirancang untuk memangkas beban kerja kurir, terutama saat harus bolak-balik antara truk dan pintu rumah.
Spot sebenarnya bukan wajah baru di lingkungan industri. Sebelum menyambangi halaman pelanggan, robot tersebut sudah dipercaya melakukan inspeksi rutin di pabrik serta ikut berpatroli di reruntuhan Pompeii, Italia. Kemampuan melintasi medan tidak rata menjadi kunci keandalannya.
Upaya mengotomatisasi pengiriman memang bukan hal orisinal. Beberapa perusahaan lebih dulu mencoba robot beroda maupun drone terbang. Namun, tangga dan lorong sempit yang penuh barang masih menjadi kendala bagi mesin tersebut, sehingga manusia tetap cara paling efisien untuk tahap akhir pengiriman.
Boston Dynamics melihat celah pada tahap last-mile delivery di lingkungan pinggiran kota. Jalur dari trotoar ke pintu depan sering kali tidak bebas hambatan, seperti selang air, pot tanaman, atau perbedaan ketinggian. Kapabilitas navigasi Spot di reruntuhan menjadikannya kandidat tepat untuk lingkungan tidak terstruktur seperti itu.
Bagi Indonesia, berita ini menawarkan gambaran tentang masa depan logistik di negeri dengan topografi beragam. Kawasan permukiman padat di Jakarta atau jalur menuju rumah di lereng bukit sangat mungkin menyulitkan robot roda. Kehadiran robot berkaki bisa menjembatani tantangan fisik tersebut, meski harganya yang mencapai 75.000 dolar AS per unit masih menjadi penghalang besar.
Beberapa startup lokal seperti Senter SAP atau eksperimen drone PT Pos Indonesia pernah menguji pengiriman otomatis, namun belum menyentuh penggunaan quadruped robot. Teknologi serupa baru sebatas riset di perguruan tinggi, misalnya prototipe robot dari Institut Teknologi Bandung. Adopsi massal diprediksi masih jauh karena biaya dan regulasi ketenagakerjaan.
Dampak terhadap para kurir lokal juga perlu dicermati. Jutaan pekerja di ekosistem Gojek, J&T, dan Pos Indonesia mengandalkan kekuatan fisik untuk mengangkat paket. Alat bantu seperti Spot berpotensi mengurangi kelelahan, namun tidak serta-merta mengganti peran manusia karena kompleksitas alamat dan interaksi sosial.
"Untuk setiap tiga paket yang diantar Spot, kami yakin bisa menambah satu paket lagi ke dalam van," kata Paige Miller, manajer produk senior Spot di Boston Dynamics. Pernyataan tersebut menunjukkan optimisme perusahaan dalam menaikkan kapasitas pengiriman tanpa menambah jumlah kendaraan.
Miller menambahkan bahwa timnya sudah menjalin pembicaraan dengan perusahaan logistik besar untuk menguji solusi last-mile delivery. Target saat ini adalah transisi dari tahap demonstrasi ke proyek percontohan penuh dalam waktu dekat.
Langkah berikutnya bagi Boston Dynamics adalah membuktikan bahwa investasi pada robot seharga mahal tersebut bisa menekan biaya operasional secara jangka panjang. Jika pilot berhasil, armada anjing robotik mungkin akan meramaikan jalanan suburb di Amerika sebelum melangkah ke pasar global.
Tren kolaborasi antara manusia dan robot akan mendominasi industri pengiriman, bukan penggantian total. Spot berposisi sebagai asisten yang membebaskan kurir dari tugas angkat-mengangkat, sementara manusia fokus pada penyiapan pengiriman berikutnya. Persaingan efisiensi logistik memasuki babak baru yang lebih mekanis namun tetap mengandalkan sentuhan manusia.