Perusahaan rintisan PsiQuantum menatap ambisi besar untuk menghadirkan komputer kuantum berbasis foton pertama di dunia yang benar-benar bermanfaat bagi industri. Di sisi lain, Norwegia tengah merampungkan terowongan jalan bawah laut terpanjang dan terdalam di dunia, membelah dasar fjord ikonik mereka. Kedua proyek raksasa ini mencerminkan geliat ambisi teknologi yang tidak surut meski ekonomi global penuh ketidakpastian.
Di dalam fasilitas PsiQuantum, sekitar 100 kabinet baja tahan karat akan menampung ratusan chip khusus. Di atas chip tersebut, ribuan partikel cahaya atau foton melesat melewati labirin sakelar optik dan pembelah berkas. Setiap foton harus terlacak dengan presisi karena pengukuran posisi akhirnya membantu memecahkan persoalan komputasi yang butuh waktu jutaan tahun bagi komputer konvensional. Perusahaan yang didirikan pada 2016 oleh empat fisikawan dari universitas Inggris ini berdiri di tengah barisan pesaing bergelimang modal dengan visi serupa.
Sementara itu, di bawah Laut Utara, sebuah terowongan sepanjang 26,7 kilometer membentang dengan titik terdalam mencapai 390 meter di bawah permukaan air. Jurnalis Niall Firth menuturkan pengalamannya berada ratusan meter di bawah laut, merasakan tekanan jutaan ton air di atas kepala dan aroma aneh dari gua yang lembap. Proyek ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan pencapaian rekayasa luar biasa yang membuktikan bahwa proyek ambisius masih bisa diselesaikan di era saat segalanya terasa sulit dikerjakan.
Latar belakang dari pacuan komputer kuantum berakar pada keterbatasan komputasi klasik. Masalah optimasi molekuler, kriptografi, dan simulasi material baru menuntut daya komputasi eksponensial. PsiQuantum memilih pendekatan fotonik ketimbang qubit superkonduktor seperti pesaingnya, dengan harapan menghindari kerapuhan suhu ekstrem. Di Norwegia, geografi berupa fjord dalam memaksa warga menempuh rute memutar yang panjang. Terowongan bawah laut ini menjadi solusi pemangkasan waktu tempuh sekaligus simbol kebanggaan nasional.
Persaingan di bidang komputasi kuantum memang sarat dengan janji kosong di masa lalu. Pendekatan PsiQuantum yang merancang arsitektur pabrik massal menunjukkan pergeseran dari eksperimen laboratorium menuju produksi nyata. Di sektor infrastruktur, terowongan Norwegia menggunakan metode pengeboran yang disesuaikan dengan batuan keras di bawah dasar laut, meminimalkan risiko kebocoran pada kedalaman ekstrem.
Bagi Indonesia, dua kemajuan ini menawarkan cermin sekaligus pelajaran berharga. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki tantangan konektivitas yang mirip dengan fjord Norwegia, meski dengan profil geologi vulkanik dan iklim tropis. Gagasan pembangunan terowongan bawah laut di Selat Sunda sempat mengemuka, namun kendala pendanaan dan teknis membuatnya tertunda bertahun-tahun. Keberhasilan Norwegia membuktikan bahwa rekayasa sipil skala ekstrem bisa menjadi jawaban atas pemerataan ekonomi antarpulau.
Di sisi komputasi kuantum, ekosistem riset dalam negeri melalui BRIN dan perguruan tinggi masih berada pada tahap teoretis dan prototipe skala kecil. Lompatan PsiQuantum mengingatkan bahwa tanpa investasi pada perangkat keras teknologi dalam, Indonesia berisiko terjebak sebagai pasar konsumen daripada produsen teknologi strategis. Dampaknya akan terasa ketika optimasi logistik dan material baterai masa depan dikuasai oleh kekuatan komputasi asing.
Alex Reisner, penulis The Atlantic, menyoroti ironi teknologi dengan menyebut kecerdasan buatan generatif sebagai teknologi terburuk yang pernah diterapkan jika diukur dari sisi ekonomi dan rekayasa. Pernyataan tersebut kontras dengan proyek PsiQuantum dan terowongan Norwegia yang menghasilkan nilai guna nyata bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa tidak semua kemajuan digital membawa efisiensi yang dijanjikan.
Narasi tim MIT Technology Review mengenai terowongan tersebut menekankan pentingnya keyakinan bahwa umat manusia masih mampu membangun hal besar. Di tengah derasnya berita tentang pemutusan hubungan kerja akibat otomatisasi dan polusi energi dari pusat data raksasa, proyek fisik seperti terowongan dan komputer kuantum fotonik memberikan arah baru bagi kemandirian teknologi.
Menatap ke depan, PsiQuantum diproyeksikan akan menguji ribuan foton secara stabil dalam beberapa tahun mendatang. Jika berhasil, komputer tersebut akan mengubah lanskap penemuan obat dan desain material secara drastis. Di Norwegia, terowongan fjord ditargetkan beroperasi untuk mengalihkan lalu lintas darat dari rute pesisir yang rawan cuaca ekstrem.
Tren megaproyek rekayasa dan komputasi akan terus beririsan di masa depan. Negara-negara dengan visi jangka panjang mulai menyadari bahwa infrastruktur fisik dan komputasi adalah tulang punggung kedaulatan digital dan ekonomi. Indonesia perlu menyiapkan regulasi dan insentif agar talenta lokal tidak sekadar mengamati, tetapi turut serta dalam perlombaan global yang menentukan masa depan ini.