PsiQuantum, perusahaan rintisan yang didirikan pada 2016, mematok target ambisius membangun komputer kuantum skala besar berbasis foton atau partikel cahaya. Rencana tersebut bukan sekadar wacana, mengingat mereka telah mengucurkan dana sebesar 1 miliar dolar AS dan memulai pembangunan fasilitas di Chicago serta Australia.
Arsitektur mesin yang dirancang membutuhkan ruang khusus yang menyerupai pusat data yang dipadukan dengan pabrik es krim. Di dalamnya akan berjejer sekitar 100 kabinet baja tahan karat setinggi enam kaki. Sistem pendingin helium cair menjaga suhu hanya beberapa derajat di atas nol mutlak agar ribuan foton dapat melintasi labirin sakelar optik dan pemecah berkas dengan presisi tinggi.
Komputer kuantum pertama kali digagas oleh fisikawan Richard Feynman pada 1981. Konsep ini menjanjikan percepatan luar biasa untuk berbagai bidang, mulai dari riset medis hingga kecerdasan buatan. Perbedaan mendasar terletak pada qubit yang mampu berada dalam banyak keadaan sekaligus, berbeda dengan bit komputer konvensional yang hanya mengenal angka 1 atau 0.
Kendati demikian, prototipe kuantum terbaik saat ini masih terlalu kecil dan rentan terhadap kesalahan. Hal inilah yang membuat janji PsiQuantum terdengar sangat berani di tengah persaingan ketat dengan perusahaan raksasa berkocek tebal lainnya. Perusahaan ini dipimpin oleh empat fisikawan dari universitas di Inggris yang membagi tugas mulai dari teori hingga rekayasa perangkat keras.
Salah satu pendiri, Terry Rudolph, merupakan cucu dari fisikawan legendaris Erwin Schrödinger. Bersama Mark Thompson, Pete Shadbolt, dan Jeremy O'Brien, ia meyakini bahwa terobosan kuantum yang mungkin secara teori juga dapat diwujudkan dalam mesin nyata. Jeremy O'Brien sendiri telah digantikan oleh Victor Peng, veteran industri semikonduktor, sebagai CEO pada Februari lalu.
Bagi Indonesia, kehadiran komputer kuantum komersial berpotensi merevolusi sektor kesehatan dan material. Saat ini, peneliti dalam negeri masih bergantung pada simulasi aproksimasi dan uji coba laboratorium yang memakan waktu lama serta biaya mahal. Jika komputasi kuantum mampu memangkas waktu riset secara drastis, industri farmasi lokal dapat lebih cepat memformulasikan obat yang efektif.
Di sisi lain, ekosistem teknologi tanah air belum memiliki infrastruktur pendukung sekelas fabrikasi semikonduktor yang digunakan PsiQuantum. Perusahaan ini unik karena berkolaborasi langsung dengan produsen chip mayor untuk membangun sistemnya di pabrik semikonduktor yang ada. Ketergantungan pada pasokan teknologi luar negeri akan semakin mengemuka ketika mesin ini akhirnya beroperasi.
Tantangan terbesar bagi pengguna di Indonesia adalah akses dan talenta. Komputasi kuantum membutuhkan pemahaman mekanika kuantum yang mendalam, sementara jurusan fisika kuantum di perguruan tinggi dalam negeri masih terbatas. Pemerintah perlu memetakan strategi pendidikan tinggi jika ingin ikut mengambil manfaat dari lompatan teknologi ini.
Philipp Ernst, Wakil Presiden Aplikasi Kuantum di PsiQuantum, menyoroti manfaat langsung bagi industri farmasi. Enzim cytochrome P450 sering memecah obat di dalam tubuh, namun memprediksi efeknya secara presisi butuh waktu lebih dari 10 tahun dengan metode saat ini. "Kami menargetkan waktu penyelesaiannya menjadi hanya empat menit," ujar Ernst.
Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan perusahaan bahwa ilmu pengetahuan modern yang selama ini menggunakan pendekatan perkiraan dapat diganti dengan pemodelan akurat. Pete Shadbolt, Kepala Ilmuwan, menambahkan bahwa perusahaan telah membangun mesin sendiri untuk memproduksi barium titanat, materi sempurna untuk merutekan partikel cahaya dalam sistem mereka.
PsiQuantum kini memasuki fase penentuan. Mereka menjadi satu dari hanya dua perusahaan, bersama Microsoft, yang mencapai tahap ketiga program evaluasi pemerintah intensif untuk melihat viabilitas teknologi kuantum. Momen pembuktian akan segera tiba, mengingat investasi ratusan juta dolar dan kerja tertutup selama bertahun-tahun harus membuahkan hasil nyata.
Situs di Australia dijanjikan beroperasi penuh pada 2027. Tahun depan menjadi tonggak krusial untuk mengetahui apakah visi mesin yang mampu menjawab teka-teki yang butuh jutaan tahun bagi komputer biasa akan terwujud. Jika berhasil, lanskap komputasi global akan berubah total, mendahului kompetitor yang masih berkutat dengan pendekatan berbasis logam superkonduktor.