PsiQuantum, perusahaan rintisan yang didirikan pada 2016 oleh empat fisikawan dari universitas di Inggris, sedang mengeksekusi rencana ambisius untuk membangun komputer kuantum berskala masif yang menggunakan partikel cahaya sebagai pengganti transistor konvensional. Mesin raksasa ini direncanakan beroperasi di fasilitas baru mereka di Australia pada 2027, serta di lokasi terpisah di Chicago, Amerika Serikat.
Ruang server bagi komputer kuantum tersebut tidak akan terlihat seperti laboratorium fisika rumit, melainkan lebih menyerupai pusat data yang dipadukan dengan pabrik es krim. Di dalamnya akan berjejer sekitar 100 lemari baja tahan karat setinggi 1,8 meter. Setiap lemari terhubung dengan pasokan helium cair untuk menjaga suhu hanya beberapa derajat di atas nol absolut.
Di dalam kabinet tersebut, ratusan chip akan memancarkan ribuan foton yang melesat melewati labirin sakelar optik dan pemecah berkas. Pengukuran presisi terhadap posisi akhir setiap foton inilah yang diyakini mampu menjawab pertanyaan komputasi yang membutuhkan waktu jutaan tahun bagi komputer biasa.
Visi ini bermula dari konsep yang diperkenalkan fisikawan Richard Feynman pada 1981. Berbeda dengan bit komputer konvensional yang hanya bernilai 1 atau 0, qubit kuantum memiliki kemampuan eksistensi di berbagai kondisi secara bersamaan. Gabungan banyak qubit diharapkan menghasilkan daya komputasi di luar jangkauan mesin modern.
Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa prototipe komputer kuantum terbaik pun masih terlalu kecil dan rentan terhadap kesalahan. Hal ini membuat janji PsiQuantum terdengar sangat berani, terutama terkait pemanfaatan praktis di industri farmasi. Perusahaan menargetkan kemampuan memprediksi efek enzim cytochrome P450 yang memecah obat dalam tubuh.
Jika perusahaan farmasi bisa memahami secara presisi cara kerja enzim tersebut pada molekul tertentu, pengembangan obat yang lebih efektif dapat dipercepat. Menurut Philipp Ernst, Wakil Presiden Aplikasi Kuantum di PsiQuantum, estimasi untuk satu obat spesifik saat ini memakan waktu lebih dari 10 tahun dengan metode tradisional. "Kami menargetkan waktu penyelesaiannya hanya menjadi empat menit," ujar Ernst.
Kehadiran teknologi ini membawa implikasi besar bagi ekosistem riset global, termasuk Indonesia. Saat ini, peneliti di dalam negeri sering kali terkendala oleh keterbatasan daya komputasi untuk simulasi material dan molekul kompleks, seperti baterai litium-ion atau korosi komponen pesawat. Pemanfaatan pendekatan kuantum berbasis cahaya dapat membuka jalan bagi universitas dan lembaga seperti BRIN untuk berkolaborasi dalam riset yang sebelumnya mustahil dilakukan.
Indonesia sejauh ini baru memiliki inisiatif kuantum skala awal, seperti pengembangan qubit berbasis material lokal di beberapa perguruan tinggi. Ketidakmampuan memprediksi perilaku partikel subatomik secara akurat memaksa ilmuwan kita menggunakan aproksimasi atau eksperimen hewani yang memakan biaya besar. Komputer kuantum komersial dari PsiQuantum kelak bisa menjadi layanan komputasi awan yang diakses peneliti Tanah Air.
Salah satu pendiri PsiQuantum, Terry Rudolph, memiliki latar belakang ilmiah yang unik. Ia merupakan cucu dari fisikawan legendaris Erwin Schrödinger, meski baru mengetahuinya setelah meraih gelar sarjana fisika. Rudolph fokus pada pengembangan teori, sementara rekan-rekannya membagi tugas mulai dari rekayasa hingga skalabilitas teknologi.
Pada Februari lalu, jajaran kepemimpinan mengalami penyegaran dengan masuknya Victor Peng, veteran industri semikonduktor, sebagai CEO menggantikan Jeremy O'Brien. Penunjukan ini strategis karena PsiQuantum merupakan salah satu dari sedikit perusahaan yang sudah bekerja sama dengan produsen chip besar untuk memproduksi sistemnya di pabrik semikonduktor yang ada.
Langkah PsiQuantum mendapatkan momentum signifikan. Tahun lalu, mereka berhasil menggalang dana sebesar 1 miliar dolar AS dan memulai pembangunan situs di Chicago bersama pemerintah daerah. Perusahaan juga menjadi salah satu dari hanya dua entitas (bersama Microsoft) yang mencapai tahap ketiga program evaluasi pemerintah intensif untuk teknologi kuantum.
Tahun depan menjadi momen penentuan bagi PsiQuantum. Setelah bertahun-tahun bekerja tertutup dan menghabiskan ratusan juta dolar, mereka akan membuktikan apakah mesin berbasis cahaya ini benar-benar berfungsi atau sekadar wacana. Jika berhasil, komputer kuantum bukan lagi sekadar teori fisika, melainkan infrastruktur penopang kemajuan sains masa depan.