Amazon menawarkan paket bundling kamera instan Polaroid Go generasi kedua beserta satu paket film 16 lembar seharga 71,99 dolar AS. Harga tersebut melorot 34 persen dari harga normal bundling yang mencapai 109,99 dolar AS. Menariknya, beli bundling justru empat dolar lebih murah dibanding membeli kamera saja yang dihargai 75,99 dolar AS. Paket film sendiri jika dibeli terpisah bernilai 21,99 dolar AS, sehingga pembeli menghemat total 38 dolar AS.
Kamera ini hadir dengan ukuran yang lebih ringkas dibanding seri klasik Polaroid. Format foto yang dihasilkan berukuran 53,9 milimeter kali 66,6 milimeter, setengah dari foto Polaroid standar yang berukuran 88 milimeter kali 107 milimeter. Ukuran mini ini cocok untuk ditempel di papan pin atau disimpan di dompet. Dayanya diisi melalui port USB-C modern, dan satu penuh cas mampu menopang hingga 15 paket film atau sekitar 240 foto.
Polaroid Go generasi kedua diluncurkan pada 2023 sebagai penerus model pertama yang debut 2021. Perbaikan utama terletak pada sistem autofokus yang lebih cepat, penambahan timer self-portrait, serta mode double exposure untuk eksperimen kreatif. Desainnya mempertahankan estetika retro khas Polaroid dengan body berwarna putih dan aksen merah. Beratnya hanya 242 gram tanpa film, menjadikannya kamera instan paling ringan dalam lini produk Polaroid saat ini.
Penurunan harga ini terjadi di tengah persaingan ketat di segmen fotografi instan. Fujifilm dengan seri Instax Mini dan Instax Square mendominasi pangsa pasar global berkat harga film yang lebih terjangkau dan ketersediaan yang luas. Polaroid berusaha menyaingi lewat diferensiasi format foto persegi khas dan branding nostalgia. Bundling agresif seperti ini dipakai untuk menarik konsumen yang ragu beralih ke ekosistem Polaroid karena biaya film per lembar yang relatif mahal.
Di Indonesia, kamera Polaroid Go generasi kedua resmi dijual melalui distributor lokal dengan harga sekitar 2,8 hingga 3,2 juta rupiah untuk unit kamera saja. Film tipe Go (format mini) dibanderol 300 hingga 350 ribu rupiah per paket 16 lembar. Harga film per lembar di Indonesia sekitar 19 hingga 22 ribu rupiah, hampir dua kali lipat harga film Instax Mini yang berkisar 10 hingga 12 ribu rupiah per lembar. Ketersediaan film Go juga lebih terbatas, biasanya hanya di toko fotografi khusus atau marketplace resmi.
Komunitas fotografi analog di Indonesia cukup responsif terhadap penawaran bundling semacam ini. Banyak penggemar yang memanfaatkan momen diskon besar-besaran — seperti 11.11 atau tahun baru — untuk menimbun stok film. Namun, hambatan utama tetap pada biaya operasional jangka panjang. Seorang pengguna Polaroid Go di Jakarta mengaku mengeluarkan hingga 1,5 juta rupiah per bulan hanya untuk film jika aktif memotret setiap akhir pekan.
Sisi positifnya, format mini Go menawarkan keunikan visual yang berbeda dari Instax Mini. Rasio aspek yang mendekati persegi menciptakan komposisi khas, cocok untuk jurnal visual, scrapbooking, atau dekorasi dinding. Ukuran fisik kamera yang sangat portabel juga jadi keunggulan bagi kreator konten traveling yang butuh perangkat ringan tanpa mengorbankan estetika analog.
Polaroid saat ini dikembangkan di bawah naungan Polaroid B.V., entitas berbasisi Amsterdam yang mengakuisisi aset merek Polaroid lama pada 2017. Perusahaan ini memproduksi film di pabrik Enschede, Belanda — satu-satunya fasilitas produksi film instan Polaroid di dunia. Ketergantungan pada satu pabrik ini pernah menyebabkan kelangkaan film global pada 2022-2023, sehingga strategi bundling juga berfungsi sebagai manajemen persediaan.
Analis industri melihat tren fotografi instan akan terus tumbuh di Asia Tenggara, didorong Gen Z yang mencari pengalaman tangible di luar layar smartphone. Data GFK menunjukkan penjualan kamera instan di Indonesia tumbuh 18 persen tahun 2023. Polaroid butuh strategi harga film yang lebih agresif atau program langganan film untuk mengunci loyalitas pengguna baru yang tertarik beli kamera saat diskon.
Langkah Amazon menurunkan harga bundling ke titik terendah sejarah kemungkinan besar merupakan persiapan menghadapi musim libur akhir tahun. Polaroid biasanya merilis edisi warna khusus atau kolaborasi desainer pada kuartal keempat. Bagi konsumen Indonesia yang berminat, opsi terbaik adalah menunggu promosi resmi distributor lokal yang sering menyertakan garansi resmi dan stok film yang lebih terjamin ketersediaannya.