Kolom Tekno

Plex Ubah Arah ke Streaming Iklan, Pengguna Beralih ke Jellyfin Gratis

Ringkasan

  • Pengguna setia Plex mulai mencari alternatif gratis seperti Jellyfin setelah perusahaan memaksakan fitur sosial dan streaming beriklan serta menaikkan harga langganan seumur hidup secara tiba-tiba.

Layanan streaming pribadi Plex tengah menghadapi resistensi dari pengguna intinya. Perusahaan di balik aplikasi tersebut belakangan lebih agresif memasukkan fitur sosial dan konten beriklan, yang justru mengorbankan antarmuka dan fungsi utama pengelolaan media pribadi. Hal ini memicu banyak pengguna untuk menilik Jellyfin, perangkat lunak sumber terbuka yang menawarkan pengalaman serupa tanpa biaya.

Kenaikan harga langganan seumur hidup Plex menjadi pemicu utama ketidakpuasan. Dari yang sebelumnya dibanderol 250 dolar AS, harga tersebut melonjak tajam menjadi 750 dolar AS. Padahal, biaya langganan tahunan yang ditawarkan adalah 70 dolar AS. Perhitungan sederhana menunjukkan bahwa harga baru tersebut setara dengan lebih dari satu dekade penggunaan versi tahunan, asumsi jika layanan tersebut bertahan sepuluh tahun ke depan.

Plex pertama kali populer karena kemampuannya mengubah koleksi film dan acara televisi pribadi di komputer pengguna menjadi layanan streaming bergaya Netflix. Kemudahan ini membuatnya menjadi standar bagi para pecinta hiburan rumahan yang ingin mengakses koleksi mereka di berbagai perangkat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, strategi bisnis perusahaan bergeser. Mereka meluncurkan platform sosial dan ulasan pengguna yang bagi sebagian besar pengguna hanya menambah kerumitan antarmuka.

Alih-alih memoles antarmuka yang sudah terasa sesak, Plex justru gencar mendorong layanan streaming berbasis iklan miliknya sendiri. Fitur ini sering kali mendapat porsi tampilan lebih besar dibandingkan perpustakaan media pribadi atau perekam video digital (DVR) yang menjadi alasan utama pelanggan membayar. Bagi pengguna yang hanya ingin menonton tayangan yang mereka miliki atau rekam sendiri, penambahan fitur yang tidak diinginkan terasa sebagai pengalihan yang merugikan.

Jellyfin muncul sebagai respons atas kebutuhan akan kendali penuh. Sebagai perangkat lunak gratis dan sumber terbuka, Jellyfin tidak memiliki agenda bisnis untuk menayangkan iklan pihak ketiga. Pengguna cukup mengunduh server, menghubungkannya ke folder media, dan menontonnya di jaringan lokal dalam hitungan menit. Proses pemindaian berkas juga berjalan andal, meski terkadang membutuhkan penyesuaian nama file agar metadata terbaca sempurna.

Di Indonesia, tren penggunaan media server pribadi terus tumbuh seiring melonjaknya harga langganan platform streaming komersial seperti Netflix dan Disney+ Hotstar. Komunitas teknologi lokal banyak yang meracik perangkat penyimpanan jaringan (NAS) untuk menyimpan konten legal milik pribadi. Kendala utama di tanah air adalah infrastruktur jaringan internet. Banyak penyedia layanan internet (ISP) di Indonesia masih menggunakan CGNAT, membuat pengaturan akses jarak jauh Jellyfin melalui port forwarding menjadi jauh lebih rumit tanpa VPN berbayar.

Selain itu, ketergantungan pada layanan berbasis langganan asing seperti Plex Pass membebani pengguna Indonesia dengan fluktuasi kurs rupiah. Kenaikan harga seumur hidup Plex ke angka 750 dolar AS (setara belasan juta rupiah) jelas tidak rasional bagi pengguna rumahan di sini. Jellyfin menawarkan jalan keluar finansial, namun menuntut kemampuan teknis yang mumpuni. Pengguna di Indonesia harus siap memahami konfigurasi jaringan dasar jika ingin menonton di luar rumah.

Persoalan perangkat keras juga relevan. Fitur siaran televisi langsung (Live TV) dan DVR di Jellyfin secara resmi hanya mendukung perangkat keras HDHomeRun. Di pasar Indonesia, perangkat semacam ini jarang dijual bebas dan harganya selangit. Plex memang mudah dipadukan dengan berbagai kartu tuner, namun Jellyfin memaksa pengguna mencari cara lain, seperti memanfaatkan aplikasi pihak ketiga NextPVR. Tambahan pula, untuk memperoleh data panduan program televisi (EPG), pengguna terpaksa berlangganan layanan eksternal semacam Schedules Direct yang dibanderol 35 dolar AS per tahun, karena Jellyfin tidak menyertakannya secara bawaan.

Seorang pengguna setia yang ditulis dalam laporan Wired mengungkapkan kekecewaannya terhadap arah pengembangan Plex. "Perusahaan terus membuat pilihan desain yang mendorong pilihan streaming berbasis iklan mereka di atas koleksi media pribadi dan fungsi DVR yang saya gunakan," ujarnya. Ia menekankan bahwa ia berlangganan murni untuk menonton televisi langsung dan rekaman tanpa gangguan sosial.

Perspektif serupa muncul terkait kemudahan akses. Pada Plex, satu akun memberikan akses ke semua server milik pengguna maupun kerabat. Sebaliknya, setiap klien Jellyfin harus diatur secara individu untuk terhubung ke setiap server. "Ini bukan penghalang mutlak, tetapi menjadi batu sandungan bagi mereka yang membagikan akses server kepada orang lain," catat pengamat tersebut berdasarkan pengalaman menjajal Jellyfin.

Ke depan, ekosistem media server kemungkinan akan terbelah. Pengguna awam yang mengutamakan kemudahan tanpa repot konfigurasi mungkin akan tetap bertahan di Plex meski harus membayar lebih. Di sisi lain, komunitas teknis dan penganjur perangkat lunak bebas diprediksi akan semakin mengadopsi Jellyfin secara masif.

Dukungan terhadap IPTV juga menjadi nilai tambah Jellyfin yang tidak dimiliki Plex tanpa modifikasi rumit. Mengingat ketersediaan layanan IPTV legal di berbagai belahan dunia semakin luas, fleksibilitas Jellyfin akan menjadi daya tarik utama. Jika komunitas pengembang terus menyempurnakan antarmuka dan akses jarak jauh, dominasi Plex bisa tergerus secara perlahan namun pasti.

Mengapa Ini Penting

Kebijakan Plex yang menaikkan harga langganan seumur hidup secara drastis menjadi 750 dolar AS akan mempercepat migrasi pengguna teknis di negara berkembang seperti Indonesia ke solusi sumber terbuka. Kendala infrastruktur seperti CGNAT yang umum di Indonesia justru memperlihatkan bahwa kemudahan Plex selama ini menutupi ketertinggalan literasi jaringan pengguna lokal. Transisi ke Jellyfin memaksa ekosistem perangkat keras lokal, seperti kartu tuner TV, untuk beradaptasi dengan standar yang lebih terbuka. Fenomena ini juga menandai pergeseran paradigma dari layanan terpusat berbasis langganan menuju kedaulatan data hiburan pribadi di tingkat rumah tangga.

Sumber Asli
Wired
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit