Tahun 2024 lalu, seorang pengembang dan penggemar game kompetitif, Marco Nett, memutuskan untuk menguji secara ilmiah berbagai klaim seputar latensi input di Linux. Selama ini, banyak gamer Linux mempertanyakan apakah Wayland benar-benar memiliki input lag lebih besar dibanding X11, apakah VRR menambah latensi, dan apakah DXVK low-latency fork benar-benar bekerja. Untuk menjawabnya, ia menciptakan alat pengukur latensi end-to-end buatan sendiri.
Alat tersebut menggunakan mikrokontroler Adafruit QT Py RP2040 yang berfungsi sebagai mouse dengan polling rate 1000 Hz. Ketika tombol ditekan, sensor cahaya (photodiode) mendeteksi perubahan kecerahan layar dengan sampling setiap 24 mikrodetik. Dengan menggabungkan data waktu klik dan respons layar, Marco bisa menghitung latensi total dari sistem secara akurat. Sebanyak 12.000 sampel diambil per klik untuk memastikan presisi.
Pengujian dilakukan pada PC dengan prosesor AMD Ryzen 7 5800X3D, kartu grafis NVIDIA GeForce RTX 4070 SUPER, dan monitor MSI OLED 500 Hz. Sistem operasi yang digunakan adalah CachyOS dengan kernel 7.1.3 dan driver NVIDIA 610.43. Marco menguji tiga variabel utama: display server (X11 vs Wayland native), VRR (on/off), dan DXVK low-latency fork.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Wayland native tidak selalu inferior dibanding X11. Dengan memastikan mode flip (direct scanout) aktif, latensi yang dihasilkan setara. Hal ini penting karena banyak distribusi Linux kini beralih ke Wayland sebagai default. Selama tidak ada komposisi yang tidak perlu, Wayland bisa menjadi pilihan yang baik untuk gaming.
Sementara itu, VRR atau G-Sync/FreeSync tidak memberikan dampak signifikan terhadap input lag. Fungsinya lebih untuk mengurangi screen tearing dan menjaga kestabilan frame rate. Bagi gamer kompetitif yang menginginkan latensi serendah mungkin, mematikan VRR mungkin tidak memberikan keuntungan berarti.
DXVK low-latency fork, yang dikembangkan oleh netborg, menjanjikan pengurangan latensi dengan mengoptimalkan frame pacer. Dalam pengujian statis, perbedaannya tipis, namun dalam skenario uncapped (tanpa batas FPS), DXVK low-latency mampu mengurangi fluktuasi frame time. Ini berarti dalam kondisi beban berat atau game dengan frame time tidak stabil, fork ini bisa memberikan pengalaman yang lebih mulus.
Bagi komunitas gaming Linux di Indonesia, temuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas. Selama ini, banyak pemain ragu beralih ke Wayland karena isu latensi. Dengan data seperti ini, mereka bisa lebih percaya diri untuk menggunakan Wayland dengan optimasi yang tepat. Terlebih lagi, penerapan Wayland di distribusi Linux mainstream seperti Ubuntu dan Fedora semakin luas, sehingga penting untuk memahami perilaku latensinya.
Namun, perlu dicatat bahwa pengujian ini menggunakan GPU NVIDIA dengan driver proprietary. Pengguna GPU AMD atau Intel mungkin mendapatkan hasil yang berbeda, terutama di Wayland yang menggunakan driver open source. Selain itu, pengaturan flip mode di Wayland tidak bisa diatur manual; compositor seperti KWin akan menentukan secara otomatis. Pengguna perlu memastikan game berjalan dalam mode fullscreen eksklusif agar flip mode aktif.
Ke depan, Marco berencana memperluas pengujian ke skenario yang lebih realistis, termasuk game multiplayer sebenarnya. Hal ini akan memberikan gambaran lebih komprehensif bagi para gamer yang mengejar performa tertinggi. Tak hanya itu, alat ukur yang ia buat juga bisa direproduksi oleh komunitas, memungkinkan pengujian mandiri dengan konfigurasi masing-masing.
Dengan semakin matangnya ekosistem gaming di Linux, mitos-mitos seputar latensi perlahan terurai. Penelitian seperti ini membantu pengguna membuat keputusan berdasarkan data, bukan sekadar kabar burung. Bagi Indonesia, ini berarti para penggemar Linux yang juga gamer bisa mendapatkan pengalaman bermain yang kompetitif tanpa harus beralih ke sistem operasi lain.