Tim peneliti dari University of Queensland, Australia, memimpin proyek ambisius untuk menyelamatkan koala dari jurang kepunahan. Mereka mengembangkan metode kriopreservasi yang membekukan sel telur dan sperma satwa tersebut dalam nitrogen cair. Cadangan genetik ini kelak dapat dipakai menghasilkan embrio melalui inseminasi buatan maupun fertilisasi in vitro.
Penyimpanan dilakukan pada suhu minus 196 derajat Celsius. Pada kondisi ekstrem tersebut, DNA koala dapat dipertahankan selama puluhan tahun hingga dibutuhkan untuk program konservasi. Pendekatan sistematis ini dirancang sebagai langkah antisipatif ketika populasi di alam terus tergerus.
Ancaman kepunahan koala bukan isapan jempol. Di Queensland dan New South Wales, populasi spesies tersebut merosot hingga 80 persen sejak akhir 1990-an. Deforestasi masif, kebakaran hutan, kekeringan berkepanjangan, dan penyakit menjadi pendorong utama penyusutan tersebut.
Tekanan ekologis itu memaksa pemerintah Australia menaikkan status konservasi koala di wilayah timur dari rentan menjadi terancam punah pada 2022. Keputusan tersebut mencerminkan urgensi penyelamatan sebelum kerusakan genetik mencapai titik tak terbalikkan.
Salah satu musuh terbesar adalah bakteri Chlamydia pecorum. Infeksi ini memicu infertilitas, gangguan saluran kemih, masalah pencernaan, hingga kebutaan pada koala. Rumah sakit satwa liar menjadi sumber sel reproduksi, baik dari individu mati maupun yang tak lagi bisa berkembang biak akibat trauma atau penyakit.
Di Indonesia, teknologi kriopreservasi telah dikenal dalam industri peternakan dan beberapa program konservasi satwa. Namun penerapan pada spesies terancam seperti badak sumatra atau orangutan masih terbentur keterbatasan fasilitas penyimpanan bersuhu sangat rendah. Bank genetik satwa liar di tanah air belum beroperasi sekuat infrastruktur di Australia.
Perbandingan tersebut menunjukkan kesenjangan kapasitas antar negara megadiverse. Australia memiliki jaringan rumah sakit satwa liar yang terstandarisasi, sementara Indonesia kerap menghadapi kendala pendanaan dan koordinasi lintas lembaga. Meski begitu, ancaman erosi keragaman genetik di kedua negara sama nyatanya.
Model penyimpanan sel reproduksi koala membuka peluang bagi Indonesia merancang protokol serupa untuk satwa endemik. Masyarakat pembaca teknologi di tanah air dapat melihat ini sebagai bentuk nyata pemanfaatan sains hayati dalam mitigasi kepunahan. Industri biologi konservasi diproyeksikan tumbuh seiring kesadaran ekologis.
“Hilangnya keragaman genetik dapat melemahkan generasi mendatang dan mengurangi kemampuan spesies untuk beradaptasi terhadap berbagai tantangan,” ujar ahli biologi reproduksi University of Queensland, Andres Gambini. Ia menegaskan proyek ini menciptakan cara aman dan sistematis menyelamatkan sperma serta sel telur koala guna mendukung konservasi masa depan.
Steve Johnston, profesor madya bidang reproduksi hewan, menambahkan bahwa infeksi pada sampel dapat ditangani sebelum digunakan. “Kini kami memiliki teknologi untuk menghilangkan infeksi dari sampel tersebut,” katanya. Tim akan memastikan setiap sel bebas Chlamydia pecorum melalui pemeriksaan ketat di laboratorium.
Ke depan, pengumpulan sel reproduksi difokuskan pada rumah sakit satwa liar yang merawat koala cedera atau sakit. Sayangnya, tak semua individu bertahan hidup, sehingga sel dari yang mati akan dimanfaatkan sebagai cadangan. Sampel melewati proses karantina genetik sebelum dibekukan.
Proyek ini tidak dimaksudkan menggantikan perlindungan habitat atau pengendalian penyakit di lapangan. Namun penyimpanan materi genetik perlu dilakukan sejak sekarang agar keragaman tak terus hilang. Tren konservasi global diprediksi bakal beralih pada bank genetik lintas benua sebagai jaring pengaman terakhir.