Akhir Juni lalu, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mengesahkan Undang-Undang KIDS (Kids Internet and Digital Safety) sebagai upaya terbaru mengatur keamanan anak di dunia maya. Selang beberapa hari, survei Pew Research Center menunjukkan lebih dari separuh responden di negeri itu mendukung larangan media sosial bagi warga di bawah usia 16 tahun.
Kebijakan pembatasan usia dan pelarangan akses langsung memang mendominasi wacana regulasi global. Namun, sebuah gagasan berbeda mulai mengemuka: alih-alih sekadar memblokir, pemerintah sebaiknya memungut pajak dari raksasa teknologi untuk mendanai "internet publik anak". Dana tersebut akan disalurkan bagi layanan nirlaba yang ramah bagi kelompok usia tersebut.
Penolakan terhadap ekosistem komersial saat ini berakar pada insentif ekonomi yang dianggap menyimpang. Perusahaan media sosial kerap menggunakan pola desain manipulatif demi mempertahankan tingkat keterlibatan pengguna sebanyak mungkin. Iklan berbasis pengumpulan data yang menginvasi privasi serta tim moderasi dengan anggaran seminimal mungkin memperburuk situasi.
Tekanan untuk meraup laba semakin membesar seiring alih-alokasi sumber daya perusahaan menuju kecerdasan buatan. Layanan konstruktif pun ikut terdampak, seperti jaringan pengasuhan anak yang terpaksa bermigrasi ke platform bermusuhan dengan interaksi manusia. Ruang diskusi swasta pun kerap memaksakan iklan intrusif agar bisa bertahan operasional.
Di sisi lain, pendekatan pelarangan terbukti memiliki celah fatal. Australia menerapkan larangan menyeluruh terhadap penggunaan media sosial remaja tahun lalu, tetapi studi mengungkap lebih dari 80 persen anak tetap mempertahankan akses. Sistem pembatasan usia mudah dibypass sekaligus merusak privasi, sementara AS kekurangan undang-undang perlindungan data modern.
Kondisi tersebut memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia. Tanah Air telah memiliki Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, namun pengawasan ketat terhadap platform asing maupun lokal masih lemah. Anak-anak dan remaja kita menghabiskan berjam-jam di aplikasi dengan mekanisme monetisasi agresif serta konten tak tersaring.
Kehadiran internet publik nirlaba dapat menjadi penyeimbang. Konsep ini menawarkan ruang kreatif dan sosial tanpa tekanan kapitalistik. Di Indonesia, potensi pemanfaatan infrastruktur perpustakaan daerah atau portal komunitas desa sangat besar untuk menjalankan layanan semacam ini.
Dampaknya akan dirasakan langsung oleh orang tua yang kewalahan mengawasi gawai anak. Ruang aman berbasis komunitas lokal mampu meminimalisasi risiko predator sekaligus menyediakan materi edukatif bebas iklan. Industri teknologi lokal juga tertantang menciptakan protokol verifikasi usia terbalik yang menghormati privasi.
Penulis dan pengamat teknologi Ben Tarnoff pernah menyinggung konsep "jalur publik di jalan raya informasi" dalam bukunya Internet for the People. Gagasan itu kini diwujudkan lewat usulan pendanaan layanan khusus anak, mirip dengan dorongan abad ke-20 bagi televisi publik anak. Pakar hukum internet Eric Goldman pun menyoroti masalah regulasi keselamatan anak dalam makalah akademisnya tahun 2025.
Beberapa contoh penerima hibah hipotetis mencakup instance Mastodon yang dikelola perpustakaan dan dimoderasi komunitas. Terdapat pula versi Roblox sumber terbuka tanpa monetisasi serta situs berita edukatif bebas iklan. Protokol verifikasi usia terbalik yang bekerja sama dengan sekolah juga diajukan guna memastikan pengguna adalah minoritas dengan risiko keamanan minimal.
Tentu saja, sebagian remaja mungkin tetap bertahan di Instagram atau TikTok karena anggapan internet "khusus anak" kurang keren. Kendati demikian, daya tarik menemukan klub baru yang tak bisa diikuti orang tua selalu ada. Banyak anak muda sudah mencoba ruang semi-privat seperti Discord meski terkendala sistem usia dan alat AI yang mereka benci.
Masa depan regulasi digital perlahan bergeser dari pembatasan menuju ekspansi alternatif. Layanan nirlaba berukuran kecil memang kasar di tepi, tetapi bebas dari iklan dan transaksi mikro. Pendekatan ini menawarkan fungsi objektif yang lebih baik ketimbang jaringan sosial komersial yang tak lagi peduli apakah produknya disukai pengguna.