Telepathic Instruments meluncurkan Orchid, sebuah synthesizer bergaya retro yang dirancang bersama Kevin Parker dari Tame Impala. Alat musik ini dibanderol 649 dolar Amerika dan menawarkan cara bermain akord tanpa perlu menguasai teori musik secara mendalam.
Orchid lahir dari nostalgia terhadap organ akord listrik era 1960-an seperti Magnus dan Bontempi. Parker dan tim pengembang ingin menghidupkan kembali kemudahan instrumen ruang tamu tersebut, namun dengan teknologi digital serta suara modern yang lebih beragam.
Organ akord listrik dulu populer karena memungkinkan siapa saja menekan satu tombol untuk memainkan akord utuh. Alat itu membantu penyanyi-penulis lagu pemula berkreasi tanpa repot. Namun, ketenarannya redup pada dekade 1980-an seiring munculnya keyboard digital Casio yang lebih murah dan praktis.
Kehadiran Orchid bukan sekadar tiruan fisik dari organ lawas. Instrumen ini menggantikan reed fisik dengan mesin digital sehingga bisa memainkan akord apa pun dari skala mana pun. Pengguna tidak lagi dibatasi jumlah akord karena keterbatasan bilah logam di dalam alat.
Secara tampilan, Orchid memakai warna cokelat dan krem khas organ Magnus. Gril speaker pun meniru lubang ventilasi instrumen klasik tersebut. Perbedaan utamanya terletak pada harga dan kecanggihan internal yang jauh melampaui generasi sebelumnya.
Bagi penulis lagu Indonesia, alat seperti Orchid membuka peluang membuat demo tanpa harus mahir piano. Banyak musisi lokal masih kesulitan memadukan vokal dan instrumen secara bersamaan. Synthesizer ramah pemula ini dapat mengurangi beban kognitif saat mencari progresi akord untuk lagu baru.
Di Tanah Air, harga 649 dolar setara lebih dari sepuluh juta rupiah. Angka itu tergolong tinggi untuk peralatan hobi. Namun, komunitas musik independen di Jakarta dan Bandung kerap mengimpor alat studio dari luar negeri, sehingga Orchid berpotensi masuk sebagai barang premium bagi kreator konten.
Orchid menyediakan keyboard satu oktaf dan tombol jenis akord di sisi kiri. Pengguna cukup menekan C dan mayor untuk mendapat akord C mayor, atau F sharp dan 9 untuk F#9. Instrumen ini bahkan bisa dikunci pada nada tertentu agar semua yang dimainkan tetap harmonis.
Terdapat tiga mesin sintesis bawaan: analog virtual, FM untuk piano elektrik era 80-an, serta reed piano bergaya Wurlitzer. Pengguna memperoleh 70 preset dan 12 suara bass terpisah. Mode performa seperti strum, harp, arpeggiator, dan slop memberi nuansa manusiawi pada permainan.
Kevin Parker tidak memberikan kutipan langsung dalam ulasan, namun perannya sebagai kolaborator desain menjelaskan mengapa Orchid terasa artistik. Estetika yang diusung selaras dengan citra Tame Impala yang psikedelik namun mudah dinikmati pendengar awam.
Telepathic Instruments juga merilis perangkat lunak Pistil seharga 99 dolar untuk mengustomisasi suara. Sayangnya, antarmuka Pistil sempat macet saat transfer patch. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem pendukung masih butuh penyempurnaan meski perangkat kerasnya memikat.
Ke depan, Orchid dapat menginspirasi produsen lokal membuat instrumen serupa dengan harga terjangkau. Tren synthesizer ramah pemula berbasis digital diprediksi tumbuh seiring meningkatnya produksi musik rumah. Kolaborasi artis besar dengan perusahaan rintisan teknologi juga akan makin lazim di industri alat musik.
Pemerhati musik Tanah Air perlu melihat Orchid sebagai sinyal bahwa kebutuhan akan alat kreasi inklusif sedang naik. Apabila ada distributor resmi, komunitas creator YouTube dan TikTok bisa memanfaatkannya untuk aransemen cepat. Hal ini memperpendek jarak antara ide dan karya akhir bagi musisi amatir.