Microsoft membuka fitur migrasi SQL Server ke mesin virtual Azure (Azure VM) melalui layanan Azure Arc secara umum (GA) pada Juli 2026. Layanan ini memungkinkan administrator memindahkan basis data dengan metode backup, restore, dan log shipping tanpa menghentikan operasi secara penuh. Pengguna cukup mendaftarkan instans SQL Server ke Azure Arc sebelum memulai proses pemindahan.
Azure Arc bukan alat pemindah beban kerja ke awan. Layanan ini memperluas kapabilitas manajemen, keamanan, dan tata kelola Azure ke server, klaster Kubernetes, serta basis data yang berjalan di lingkungan lokal atau awan lain. Setelah ekstensi Azure dipasang dan instans terdaftar, server tersebut berstatus "SQL Server enabled by Azure Arc". Status itulah yang menjadi syarat agar fitur migrasi dapat diakses.
Kebutuhan akan opsi migrasi ini muncul karena banyak perusahaan masih mengandalkan SQL Server dengan konfigurasi khusus di infrastruktur sendiri. Azure SQL Managed Instance memang tersedia sebagai layanan PaaS, namun tidak semua fitur server-level dapat dipindahkan ke sana. Opsi Azure VM memberi kendali penuh terhadap sistem operasi dan mesin SQL, cocok bagi organisasi dengan ketergantungan pada objek dan pengaturan tertentu.
Sebelum migrasi berjalan, beberapa prasyarat wajib dipenuhi. Pelanggan harus memiliki langganan Azure aktif serta instans sumber yang sudah diaktifkan Azure Arc dengan ekstensi versi terbaru. Fitur ini mendukung SQL Server 2012 (11.x) ke atas. Akun Azure Blob Storage harus berada di region yang sama dengan VM target sebagai area penampungan berkas cadangan. Jika berbeda region, migrasi gagal.
Pengguna yang menjalankan migrasi membutuhkan hak akses tertentu. Mereka wajib menyandang peran Storage Blob Data Reader pada akun penyimpanan, Reader pada grup sumber daya, dan Virtual Machine Contributor pada VM target. Di sisi sumber, hak sysadmin diperlukan atau opsi least privilege dapat diaktifkan agar izin diberikan sementara selama proses berlangsung.
Mekanisme migrasi mengandalkan pencadangan dan pengiriman log transaksi untuk menekan waktu henti. Log shipping menyinkronkan basis data sumber dan target sebelum pemotongan (cutover) dilakukan. Seluruh tahapan dikelola dari panel Database Migration di portal Azure tanpa alat tambahan.
Tahap pertama adalah penilaian otomatis yang Azure Arc buat setiap minggu, namun dapat dipicu manual dalam hitungan menit. Penilaian memetakan kesiapan, isu kompatibilitas, serta rekomendasi ukuran VM. Tahap kedua, pengguna memilih VM yang ada atau membuat baru lewat panel migrasi. Tahap ketiga mewajibkan unggahan satu cadangan penuh ke Blob Storage sebelum proses dilanjutkan.
Selama migrasi, administrator bertanggung jawab mengunggah log transaksi secara berkelanjutan ke akun penyimpanan yang sama. Azure Arc memulihkan cadangan penuh ke VM target dan menerapkan tiap log saat muncul di kontainer. Tahap terakhir adalah pemantauan dan cutover, di mana pengguna menentukan sendiri waktu pemindahan akhir setelah log terakhir diproses.
Microsoft menyisipkan Copilot ke dalam dasbor migrasi di portal Azure. Asisten itu menjawab pertanyaan seputar penilaian atau pemilihan target berdasar dokumentasi resmi. Penggunaan Copilot bersifat opsional dan migrasi tetap dapat diselesaikan tanpanya.
Sejumlah batasan perlu diperhatikan. Struktur folder cadangan harus datar untuk satu basis data, sementara banyak basis data wajib dalam folder terpisah dalam satu kontainer. Metode ini tidak mendukung penimpaan basis data di target, tidak mengonfigurasi HA/DR, serta tidak memindahkan SQL Server Agent jobs, kredensial, paket SSIS, dan objek audit server. Kendala region juga berlaku pada akun penyimpanan.
Bagi perusahaan Indonesia, ketersediaan fitur ini relevan karena adopsi Azure terus tumbuh di sektor perbankan, manufaktur, dan pemerintah. Banyak instansi masih menyimpan SQL Server di pusat data lokal demi regulasi dan latensi. Opsi migrasi tanpa henti panjang memberi jalur transisi ke awan tanpa mengganggu layanan harian.
Di sisi lain, talenta dengan keahlian Azure Arc dan administrasi SQL masih terbatas di dalam negeri. Kebutuhan akan arsitek awan dan engineer basis data akan meningkat seiring permintaan migrasi. Penyedia layanan managed service lokal dapat mengambil ceruk ini dengan menawarkan pendampingan migrasi.
Ke depan, Microsoft diproyeksikan memperluas dukungan otomatisasi termasuk konfigurasi HA/DR pasca-migrasi. Kompetisi antarpenyedia awan di Indonesia akan semakin ketat dengan pendekatan hybrid yang ditekankan lewat Azure Arc. Organisasi perlu menyusun strategi tata kelola awan sebelum memindahkan beban kerja kritis.