Produsen pakaian olahraga premium Lululemon ikut memimpin pendanaan Seri A senilai 30 juta dollar AS untuk Syntetica, startup asal Prancis yang mengembangkan teknologi daur ulang nilon. Investasi tersebut disalurkan kepada perusahaan yang menawarkan solusi pemrosesan dua jenis nilon sulit dipisahkan dari sampah tekstil konsumen.
Syntetica tidak memproduksi kain baru maupun material alternatif. Perusahaan ini fokus mengubah limbah tekstil menjadi pelet nilon yang bisa dipakai pabrik benang, termasuk klien rantai pasok mereka. Pendekatan ini disebut pragmatis karena menargetkan efisiensi biaya dan skalabilitas sejak tahap awal.
Nilon merupakan material yang sulit didaur ulang karena sifat fisiknya yang sangat awet, namun justru membuatnya menumpuk di tempat pembuangan akhir. Dalam sampah pakaian konsumen, Nylon 6 dan Nylon 6,6 kerap bercampur dan tidak mudah diurutkan kembali. Syntetica mengklaim teknologinya mampu menangani kedua jenis tersebut tanpa pemilahan manual yang mahal.
Dorongan bagi startup seperti Syntetica datang dari regulasi lingkungan Uni Eropa dan fluktuasi harga nilon akibat gejolak geopolitik di industri minyak. CEO Syntetica Marco Bertone menyebut enam bulan terakhir terjadi negosiasi ulang harga nilon secara mingguan atau kuartalan. Hal itu menjadi peringatan bagi merek yang selama ini mengandalkan nilon berbasis minyak bumi.
Bagi industri fashion premium, investasi pada ekonomi sirkular juga menyangkut persepsi pelanggan. Konsumen kini menuntut tanggung jawab ekologi dari merek yang menjual produk dengan harga tinggi. Lululemon, Victoria's Secret, dan Etam termasuk merek yang menjalin kerja sama dengan Syntetica untuk proyek daur ulang yang diproyeksikan meluncur awal tahun depan.
Dampaknya bagi Indonesia perlu dicatat mengingat negara ini merupakan salah satu penghasil limbah tekstil terbesar di Asia Tenggara. Industri garmen lokal banyak bergantung pada serat sintetis, termasuk nilon, namun fasilitas daur ulang terpadu masih terbatas. Teknologi semacam Syntetica berpotensi mengubah pola limbah jika lisensi atau kemitraan masuk ke pabrik di Jabodetabek dan Jawa Timur.
MAS Holdings, produsen pakaian besar, ikut berinvestasi di Seri A ini. Langkah tersebut tidak lazim karena pemain rantai pasok biasanya menunggu startup matang sebelum menyuntik modal. Sebelumnya, Syntetica sudah bekerja sama dengan pusat material berkelanjutan Michelin di Clermont-Ferrand untuk membangun fasilitas demonstrasi komersial.
Pendanaan dipimpin oleh dana Ecotechnologies 2 yang dikelola tim Green Venture di Bpifrance, bank investasi publik Prancis. European Innovation Council turut memberi ekuitas, hibah, dan program akselerasi. Investor swasta seperti EQT Ventures dan SWEN Capital Partners melengkapi putaran pendanaan tersebut.
Bertone menekankan perusahaannya dibangun tanpa premi hijau. "Kami membangun perusahaan dengan kesadaran bahwa tidak ada premi hijau. Jika ingin skala solusi nyata untuk dunia berkelanjutan, itu harus kompetitif secara biaya dan sangat terukur," ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya kemitraan sejak awal untuk mendapat dukungan seluruh rantai nilai.
Syntetica lahir dari akselerator Entrepreneur First di Station F, Paris, tempat Bertone bertemu peneliti kimia Louis Monsigny. Mereka mengembangkan riset di laboratorium AgroParisTech di Reims sebelum merekrut mantan eksekutif Northvolt, Ash Ward, sebagai CTO. Pengalaman tim pada startup yang gagal memberi mereka batas dalam mengambil risiko并行.
Ke depan, Syntetica akan memprioritaskan produksi ratusan ton pelet per tahun sebagai bukti konsep. Setelahnya, perusahaan berencana membangun fasilitas dekat sumber limbah dan pusat produksi tekstil di berbagai negara. Bertone menyatakan semua pemain daur ulang harus sukses agar masalah global teratasi.
Persaingan datang dari startup enzimatik hingga raksasa kimia BASF yang telah mengembangkan nilon daur ulang. Lululemon sendiri sebelumnya menanamkan modal di Epoch Biodesign dan Samsara Eco. Arah industri menunjukkan kolaborasi lintas startup dan korporasi menjadi kunci akselerasi ekonomi sirkular tekstil.