Kolom Tekno

Lucid Motors Bantah Kabar Kebangkrutan di Tengah Anjloknya Saham EV

Ringkasan

  • Lucid Motors membantah laporan yang menyebut perusahaan sedang mempertimbangkan kebangkrutan Chapter 11.
  • Bantahan resmi disampaikan pada Selasa setelah saham mereka anjlok lebih dari 50%.

Lucid Motors dengan tegas membantah kabar yang beredar mengenai rencana pengajuan kebangkrutan. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Chief Communications Officer Lucid, Nick Twork, melalui pernyataan tertulis yang menegaskan bahwa rumor tersebut sama sekali tidak benar.

Penolakan ini muncul tepat setelah harga saham perusahaan terjun bebas hingga lebih dari 50% pada perdagangan Selasa, mencatat penurunan intraday terburuk sepanjang sejarah perusahaan menurut data Bloomberg. Meski sempat jatuh bebas, saham Lucid berhasil bangkit dan ditutup di level 4,72 dollar AS per lembar pada pukul 2:46 sore waktu Eastern, atau sekitar 14% di bawah harga pembukaan.

Krisis kepercayaan investor dipicu oleh laporan sebuah blog kendaraan listrik yang mengutip dua sumber anonim. Sumber tersebut mengklaim manajemen Lucid sedang menimbang opsi mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 atau menjadi perusahaan privat. Langkah tersebut disebut sebagai rekomendasi dari firma konsultan AlixPartners.

Twork membantah keras keterlibatan AlixPartners dalam skenario kebangkrutan. Ia menegaskan firma konsultan tersebut hanya bertugas membantu Lucid memperkuat operasional internal dan tidak pernah merekomendasikan kebangkrutan kepada manajemen maupun dewan direksi. "Rumor tersebut sepenuhnya palsu. Perusahaan memiliki likuiditas yang cukup untuk menjalankan operasi hingga jauh ke tahun depan," ujar Twork merujuk pada laporan keuangan kuartalan terakhir.

Tekanan finansial yang dialami Lucid memang nyata. Sepanjang tahun ini, perusahaan melakukan pemangkasan ribuan karyawan dengan total lebih dari 2.000 orang yang terkena dampak pemutusan hubungan kerja. Restrukturisasi besar-besaran ini dilakukan jelang peluncuran SUV listrik berukuran lebih kecil dan terjangkau pada akhir tahun. Lucid juga baru saja menunjuk seorang CEO baru untuk memimpin transformasi perusahaan.

Bagi ekosistem kendaraan listrik global, goncangan yang menimpa Lucid menjadi pengingat bahwa modal besar dan spesifikasi teknologi canggih tidak menjamin kelangsungan bisnis. Secara historis, Lucid kesulitan mencari pembeli untuk EV mewah mereka meski memiliki spesifikasi impresif. Pada kuartal kedua tahun ini, mereka hanya mengirimkan 3.953 unit, angka yang hanya sedikit lebih tinggi dari periode sama tahun lalu.

Di Indonesia, tren kendaraan listrik premium juga menghadapi tantangan serupa terkait volume penjualan. Meski pemerintah gencar memberikan insentif melalui Perpres No. 79/2023, pasar domestik masih didominasi oleh model harga terjangkau seperti dari merek lokal maupun kendaraan Jepang dan China. Kegagalan merek EV premium di luar negeri seperti Lucid memberikan pelajaran berharga bagi produsen dalam negeri agar tidak terjebak pada produksi mahal dengan target pasar sempit.

Sementara itu, Lucid terpaksa menghapus shift produksi kedua di pabrik Arizona untuk menyesuaikan rencana manufaktur dengan permintaan pasar yang tertahan. Strategi pengetatan ini kontras dengan ambisi mereka di sektor mobilitas otonom. Lucid, bersama Uber dan Nuro, berupaya meluncurkan layanan robotaxi mewah pada akhir tahun ini. Uber berkomitmen membeli minimal 35.000 kendaraan Lucid yang dilengkapi teknologi Nuro, dengan 10.000 di antaranya merupakan model SUV Gravity.

Fokus manajemen saat ini, menurut Twork, diarahkan pada peningkatan eksekusi dan penguatan operasional. "Fokus kami adalah meningkatkan eksekusi, memperkuat operasi, dan memposisikan Lucid untuk mewujudkan potensi penuh dari teknologi, produk, dan inovasinya," ungkapnya dalam pernyataan resmi tersebut.

AlixPartners sendiri bukan nama asing di industri EV yang sedang berjuang. Firma ini sebelumnya digandeng Lordstown Motors pada 2021 setelah CEO dan CFO mengundurkan diri, meski akhirnya perusahaan tersebut kolaps. Faraday Future juga pernah menggunakan jasa mereka pasca investigasi internal pada 2022. Rekam jejak tersebut sempat memperkuat spekulasi pasar sebelum Lucid memberikan bantahan tegas.

Menatap sisa tahun ini, kesiapan peluncuran SUV listrik terjangkau baru akan menjadi penentu nasib Lucid. Jika model baru gagal mengerek volume penjualan, tekanan likuiditas bisa kembali memicu kepanikan pasar meski bantahan hari ini sudah meredakan sedikit gejolak.

Di sisi lain, kolaborasi dengan Uber dan Nuro menunjukkan bahwa masa depan Lucid tidak hanya bertumpu pada penjualan ritel. Transisi menuju penyedia armada untuk layanan robotaxi bisa menjadi jalan keluar strategis. Namun, mengingat catatan buruk banyak startup EV dalam merealisasikan janji otonom, investor memilih untuk terus mengawasi setiap langkah operasional Lucid dengan ketat.

Mengapa Ini Penting

Krisis yang melanda Lucid Motors menyoroti kerentanan startup kendaraan listrik premium yang bertaruh pada margin tinggi namun volume rendah, sebuah model yang berisiko bagi ekosistem EV global. Bagi Indonesia, hal ini menjadi peringatan dini bahwa insentif pemerintah tidak cukup menyelamatkan merek jika strategi penetrasi pasar salah sasaran. Investasi pada teknologi otonom seperti robotaxi bersama Uber menunjukkan bahwa masa depan profitabilitas EV mungkin bergeser dari kepemilikan pribadi ke model langganan mobilitas. Pelaku industri dalam negeri perlu menyeimbangkan antara inovasi teknologi dengan realitas daya beli konsumen lokal.

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit