Pos Pengamatan Gunung Ijen mencatat satu kejadian longsor pada dinding kawah setinggi 2.386 meter di atas permukaan laut. Kejadian itu terdeteksi selama periode pengamatan 24 jam pada Selasa, 14 Juli 2026, dengan durasi gempa 17 detik dan amplitudo 6.
Nur Hudha, petugas pos di Dusun Punggung, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, melaporkan peristiwa tersebut dalam laporan rutin yang diserahkan Kamis pagi, 16 Juli 2026. Ia mencatat gunung api terlihat jelas meski sesekali tertutup kabut. Asap dari kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis mencapai ketinggian 50–100 meter dari puncak.
Longsoran dinding kawah merupakan ancaman fisik yang kerap muncul pada gunung api aktif dengan sistem hidrotermal intens. Di Ijen, aktivitas peretakan batuan oleh larutan asam dan tekanan gas bawah permukaan memperlemah struktur dinding kawah dari waktu ke waktu. Kondisi itu diperparah oleh erosi termal serta curah hujan yang memicu pergerakan massa batuan.
Gunung Ijen termasuk dalam kelompok gunung api strato dengan danau kawah bersifat asam ekstrem. Interaksi air, belerang, dan panas bawah tanah menciptakan lingkungan korosif yang mempercepat pelapukan fisik tubuh gunung. Fenomena serupa pernah terekam di beberapa gunung api lain di Indonesia, seperti Semeru dan Lewotobi, yang juga memiliki dinding kawah rentan runtuh.
Pada level aktivitas Ijen yang masih berstatus Normal atau Level I, longsor kecil seperti ini umumnya tidak langsung memicu erupsi. Namun, runtuhan dapat menutup saluran gas dan mengubah pola aliran CO2 di sekitar kawah. Hal itu berisiko bagi pendaki, penambang belerang tradisional, dan wisatawan yang memasuki radius berbahaya.
Dari sisi pemantauan, kejadian ini menunjukkan peran penting instrumen seismik pengamatan vulkanologi yang kini terhubung ke jaringan data real-time PVMBG. Sensor gempa embusan, vulkanik dangkal, hingga tremor menerus terekam presisi dalam laporan pos. Selama periode sama, tercatat 2 gempa embusan, 3 gempa vulkanik dangkal, dan 3 gempa tektonik jauh melintasi stasiun pantauan.
Masyarakat dan pengunjung diminta menjauhi dasar kawah serta tidak berkemah dalam radius 500 meter. Imbauan juga mencakup kewaspadaan terhadap aliran gas CO2 di Sungai Banyupait–Banyuputih. Gas beracun di sekitar kawah tetap menjadi risiko utama meski status gunung dinyatakan normal.
Belum ada penjelasan resmi dari PVMBG terkait penyebab teknis longsoran dan dampak lanjutannya. Tim redaksi telah mencoba mengonfirmasi kepada salah satu ketua tim vulkanologi, tetapi belum memperoleh tanggapan hingga berita ditulis. Ketiadaan keterangan ini menyisakan tanda tanya mengenai stabilitas struktur kawah dalam beberapa pekan ke depan.
“Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50–100 meter dari puncak,” ujar Hudha dalam laporan tertulisnya. Ia secara khusus mengingatkan potensi longsor susulan pada dinding kawah yang masih labil pasca-kejadian.
“Tingkat aktivitas Gunung Ijen tetap di level I atau normal,” tegas Hudha. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa tidak ada kenaikan status ancaman erupsi besar meski terjadi pergerakan batuan di tepi kawah.
Ke depan, PVMBG diproyeksikan memperketat penggunaan citra satelit dan drone pemetaan termal untuk memantau perubahan geometri kawah. Integrasi data seismik dengan model deformasi dapat mendeteksi longsor lebih awal. Langkah itu krusial mengingat Ijen merupakan destinasi wisata dan sumber penghidupan bagi warga lokal.
Penguatan sistem peringatan dini berbasis Internet of Things juga menjadi tren di pos pengamatan gunung api nasional. Dengan transmisi data otomatis, informasi longsor dan gas beracun dapat menjangkau warga dalam hitungan menit. Hal ini akan mengurangi ketergantungan pada laporan manual yang berjarak waktu hingga dua hari seperti dalam kasus terkini.