Pasar quick commerce di India tidak lagi terbatas pada kota-kota metropolitan. Beberapa perusahaan mulai memperluas layanan pengiriman cepat ke kota tier 2 demi menjangkau konsumen yang selama ini terpinggirkan dari layanan tersebut.
Pergeseran strategi ini muncul ketika penetrasi internet dan adopsi dompet digital di wilayah non-metro meningkat tajam. GoPizza memilih memperdalam ekspansi di India, sementara startup B2B Udaan membidik pendanaan segar untuk memperkuat rantai pasok ke daerah. Fenomena ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap pengiriman instan tidak hanya milik warga ibu kota.
Selama bertahun-tahun, model bisnis quick commerce bertumpu pada kepadatan penduduk dan volume pesanan tinggi di kota tier 1 seperti Delhi, Mumbai, dan Bengaluru. Infrastruktur gudang mikro atau dark store dibangun dekat pemukiman padat agar barang sampai dalam 10–15 menit. Namun, biaya operasional di kota besar mulai menekan margin perusahaan.
Di sisi lain, kota tier 2 menawarkan ruang kompetisi yang lebih longgar. Konsumen di sana mulai terbiasa memesan makanan, kebutuhan rumah tangga, dan barang kecil melalui aplikasi. Mereka juga menginginkan kecepatan layanan yang setara dengan warga kota metropolitan.
Pertumbuhan ini didorong oleh perbaikan logistik regional dan investasi pada jaringan distribusi tingkat kedua. Udaan, yang fokus pada penyediaan barang bagi pedagang kecil, melihat peluang memperpendek rantai pasok dari pusat ke kota satelit. Rencana pendanaan baru diharapkan menopang ekspansi fisik dan teknologi inventaris mereka.
Bagi industri, pergerakan ini mengubah peta persaingan. Layanan kilat tidak lagi menjadi alat diferensiasi eksklusif kota besar, melainkan standar layanan dasar di pasar berkembang. Perusahaan yang lambat beradaptasi di tier 2 berisiko kehilangan pangsa pasar dari pemain lokal yang lebih gesit.
Dampak serupa terlihat di Indonesia. Startup seperti GrabMart, GoMart, dan Tokopedia NOW telah menguji pengiriman cepat di Jabodetabek. Namun, perluasan ke kota tier 2 seperti Bandung, Surabaya, atau Makassar masih terkendala jarak dan efisiensi gudang. Pengalaman India memberi pelajaran bahwa permintaan di luar ibu kota nyata adanya.
GoPizza memperlihatkan bahwa merek konsumsi bisa tumbuh di luar metro dengan menyesuaikan menu dan harga lokal. Strategi ini relevan bagi pengusaha Indonesia yang ingin menjangkau kota lapis kedua tanpa membakar kas di kota utama. Kolaborasi dengan distributor regional menjadi kunci.
Udaan menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur B2B sebelum layanan C2C cepat masif. Tanpa pasokan stabil, promises pengiriman 30 menit hanya akan menjadi beban reputasi. Pendekatan ini selaras dengan model s Supply Chain di Indonesia yang masih bertumpu pada agen dan warung.
“Kota tier 2 bukan sekadar pasar sisa, mereka adalah mesin pertumbuhan berikutnya,” ungkap salah satu analis riset teknologi India yang mengamati tren tersebut. Pernyataan itu mencerminkan keyakinan investor bahwa margin lebih sehat di wilayah dengan biaya sewa rendah.
Ke depan, ekspansi ke tier 2 akan menuntut teknologi perencanaan permintaan yang akurat. Perusahaan harus memadukan data perilaku lokal dengan logistik ramping agar harga tetap kompetitif. Pemain yang gagal membaca karakteristik kota kecil akan tersisih.
Tren ini juga membuka peluang bagi penyedia layanan cloud dan pembayaran lokal di Asia Tenggara. Indonesia, dengan 200 juta lebih pengguna internet, siap menjadi laboratorium berikutnya bagi model quick commerce regional. Transisi dari metro ke non-metro tinggal menunggu efisiensi biaya.
Persaingan di kota tier 2 India juga memicu perlombaan infrastruktur mikro. Dark store dan hub pengiriman kecil mulai bermunculan di pinggiran kota menengah. Hal serupa berpotensi terjadi di Indonesia jika operator berani keluar dari zona nyaman Jabodetabek.