Kelangkaan chip memori global yang dipicu oleh tingginya permintaan dari perusahaan kecerdasan buatan (AI) kini berdampak langsung pada ketersediaan MacBook Air. Menurut laporan Mark Gurman dari Bloomberg, Apple mulai kesulitan menjaga stok laptop tipisnya tersebut di pasaran. Para pengecer bahkan menyebut pasokan MacBook Air saat ini menjadi yang paling terbatas dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Siapa pun yang mencoba membeli MacBook Air melalui situs resmi Apple harus bersabar. Untuk sebagian besar varian, unit baru baru akan tersedia pada paruh kedua Agustus 2026. Sementara untuk konfigurasi tertentu, pelanggan harus menunggu hingga September. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi konsumen yang berencana memanfaatkan musim liburan sekolah untuk membeli perangkat baru.
Masalah ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, kelangkaan yang sama telah lebih dulu menghantam lini komputer niche Apple, yaitu Mac mini dan Mac Studio. Kini, gelombang kelangkaan merambat ke produk yang jauh lebih populer dan menjadi tulang punggung penjualan Apple, yakni MacBook Air. Produk ini memang selama ini menjadi pilihan utama pelajar, profesional muda, hingga pekerja kreatif karena keseimbangan antara harga dan performa.
Akar persoalannya tidak lepas dari ledakan kebutuhan chip memori untuk pusat data AI. Perusahaan-perusahaan besar seperti OpenAI, Google, dan Microsoft berlomba membangun infrastruktur komputasi berkapasitas raksasa. Konsekuensinya, pasokan DRAM dan NAND flash yang biasanya dialokasikan untuk perangkat konsumen sebagian besar tersedot untuk memenuhi permintaan server AI. Harga komponen pun meroket, dan produsen seperti Apple harus berebut pasokan dengan raksasa teknologi global.
Apple merespons situasi ini dengan sejumlah langkah. Gurman menyebut perusahaan berupaya menaikkan harga jual untuk menyeimbangkan biaya produksi yang meningkat. Di sisi lain, Apple mulai mencari sumber pasokan memori alternatif dari pemasok asal China. Ini langkah yang cukup mengejutkan mengingat Apple selama ini lebih banyak menggantungkan diri pada pemasok dari Korea Selatan dan Jepang. Namun, tekanan rantai pasok memaksa perusahaan mengambil opsi yang lebih fleksibel.
Kebijakan lain yang ikut berubah adalah promosi. Apple menunda program promosi back-to-school yang biasanya diluncurkan pada bulan Juni. Penundaan ini menandakan kekhawatiran Apple akan ketidakmampuan memenuhi lonjakan permintaan. Yang lebih mencolok, materi pemasaran terbaru Apple untuk pertama kalinya lebih banyak menyorot MacBook Pro varian dasar. Di beberapa halaman produk, Apple bahkan menyematkan peringatan eksplisit: "MacBook Air subject to availability".
Bagi pengguna di Indonesia, kabar ini tentu bukan secercah harapan. Pasar laptop Tanah Air sangat bergantung pada ketersediaan unit MacBook Air, terutama lewat jalur distributor resmi dan toko online. Kelangkaan pasokan global biasanya berimbas pada dua hal. Pertama, waktu pengiriman yang semakin molor. Kedua, harga eceran yang berpotensi naik karena selisih permintaan dan pasokan yang kian lebar di tingkat distributor.
Kondisi ini bisa menjadi momentum bagi merek lain. Di segmen laptop premium, Apple selama ini memiliki posisi yang kuat. Namun, kelangkaan yang berkepanjangan bisa mendorong konsumen Indonesia melirik alternatif dari merek lain seperti Dell XPS, Asus Zenbook, atau Lenovo Yoga yang menawarkan spesifikasi sepadan. Perang harga di segmen menengah atas pun berpotensi memanas, terutama menjelang akhir tahun.
Persoalan ini juga menegaskan bahwa industri AI memiliki efek domino yang luas. Kecepatan pengembangan teknologi AI tidak hanya menentukan masa depan perangkat lunak, tetapi juga ketersediaan perangkat keras. Komponen yang sebelumnya dianggap sepele seperti chip memori kini menjadi barang strategis yang menentukan siapa yang bisa memproduksi laptop dalam jumlah besar. Negara-negara yang tidak memiliki pabrik semikonduktor, termasuk Indonesia, hanya bisa menjadi penonton dan menanggung dampak dari gejolak rantai pasok global.
Menariknya, ini bukan pertama kalinya industri teknologi dilanda kelangkaan chip. Pada 2020 dan 2021, pandemi Covid-19 memicu kelangkaan serupa yang membuat harga komponen melonjak dan waktu tunggu kendaraan hingga konsol game membengkak. Namun, kali ini pemicunya berbeda. Pandemi mengganggu produksi, sementara ledakan AI justru mengerek permintaan ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ke depan, tekanan pada pasokan MacBook Air diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Apple sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai kapan pasokan akan kembali normal. Para analis memperkirakan perbaikan baru akan terasa pada awal 2027, ketika kapasitas produksi pabrik-pabrik memori baru mulai beroperasi. Hingga saat itu, konsumen yang ingin membeli MacBook Air sebaiknya memesan lebih awal atau bersiap dengan berbagai kemungkinan keterlambatan.
Di tengah situasi ini, konsumen Indonesia perlu lebih cermat dalam melakukan riset dan mempertimbangkan waktu pembelian. Memantau ketersediaan di toko online resmi iBox, Digimap, atau distributor Apple lainnya menjadi langkah yang bijak. Bagi yang tidak terburu-buru, menunda pembelian hingga pasokan membaik mungkin merupakan keputusan paling masuk akal untuk menghindari kekecewaan dan pengeluaran yang tidak perlu.