Kolom Tekno

ITS Ciptakan Traktor Perahu Listrik untuk Lahan Gambut

Ringkasan

  • ITS mengembangkan traktor perahu listrik 10 kW untuk lahan gambut, hemat biaya, rendah emisi, dan mampu membajak 1 hektar dalam 3-4 jam, mendukung pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan traktor perahu listrik yang dirancang khusus untuk lahan gambut. Inovasi ini diresmikan pada Selasa, 14 Juli 2026, oleh tim yang dipimpin Prof. Bambang Sudarmanta, Manajer Tim Bengkel Science Techno Park (STP) Otomotif. Kendaraan ini memiliki bentuk menyerupai kapal sehingga tetap terapung di atas lahan basah tanpa risiko tenggelam. Desainnya tidak mengutamakan kecepatan, melainkan torsi tinggi agar mampu memenuhi kebutuhan operasional membajak sawah di ekosistem gambut yang unik.

Traktor listrik ini menggunakan motor listrik berdaya 10 kilowatt (kW) yang dipasok dari baterai berkapasitas 140 Ampere per hour (Ah). Sistem penggeraknya bekerja pada tegangan optimal sekitar 72 volt dengan arus 32 Ampere, menghasilkan daya sekitar 10 kW. Baterai tersebut memungkinkan traktor beroperasi selama 3 hingga 4 jam dalam kondisi penuh. Panel layar elektronik terpasang untuk memudahkan petani memantau kondisi baterai, suhu, dan tegangan secara real-time.

Dibandingkan dengan traktor konvensional berbahan bakar fosil, traktor listrik ini menawarkan penghematan biaya operasional yang signifikan. Sumber energinya memanfaatkan listrik rumah tangga yang lebih murah dan mudah diakses. Selain itu, respons torsi langsung saat gas diaktifkan menghasilkan tenaga penuh secara instan untuk menggemburkan tanah. Hal ini juga mengurangi degradasi struktur tanah dan mendukung pertanian berkelanjutan dengan emisi rendah.

Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya produktivitas lahan gambut di Indonesia. Data menunjukkan bahwa lahan gambut masih belum optimal dalam mendukung pertanian. Tim ITS kemudian merancang solusi yang menggabungkan prinsip flotasi, mekanisasi pertanian, dan elektrifikasi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus melindungi ekosistem. Traktor perahu listrik ini menjadi jawaban atas tantangan kondisi lahan basah yang sulit dijangkau oleh traktor biasa.

Secara teknis, traktor ini dirancang dengan fokus pada optimasi torsi tinggi, bukan kecepatan, sehingga traktor ini bisa memenuhi kebutuhan operasional membajak sawah. Desainnya yang menyerupai perahu memungkinkan kendaraan bergerak optimal di atas lahan basah tanpa risiko tenggelam. Hal ini penting karena lahan gambut seringkali tergenang air dan memiliki permukaan tidak stabil.

Pengujian lapangan dilakukan pada lahan seluas 1 hektar dengan dimensi 100 meter x 100 meter. Menggunakan bajak traktor selebar 1,8 meter, traktor ini memerlukan 56 lintasan atau setara 5,6 kilometer untuk menyelesaikan area tersebut. Berdasarkan hasil uji coba, traktor ini diestimasikan mampu membajak lahan seluas 1 hektar dalam waktu yang relatif singkat. Pengujian langsung di sawah sebelumnya menemukan kendala teknis berupa panas berlebih. Untuk mengatasi masalah ini, tim menambahkan sistem pendingin sebagai komponen krusial yang baru.

Bagi petani Indonesia, traktor listrik ini dapat mengurangi beban biaya pembelian bahan bakar dan perawatan mesin. Penggunaan listrik sebagai sumber daya juga mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian, selaras dengan komitmen nasional dalam mitigasi perubahan iklim. Selain itu, traktor ini meminimalkan kerusakan struktur tanah gambut yang rentan terhadap oksidasi, sehingga mendukung keberlanjutan pertanian jangka panjang.

Prof. Bambang Sudarmanta menjelaskan, "Keunggulan lainnya ialah respons torsi yang instan saat gas diaktifkan, sehingga menghasilkan tenaga penuh secara langsung untuk menggemburkan tanah." Ia menambahkan, "Traktor listrik ini jauh lebih hemat biaya dibandingkan traktor konvensional berbasis bensin atau solar karena sumber energi traktor ini memanfaatkan daya listrik yang murah dan mudah diakses di rumah warga."

Di Indonesia, produk serupa masih langka. Beberapa produsen lokal memang menawarkan traktor listrik untuk lahan kering, namun belum ada yang khusus dirancang untuk lahan gambut. Kehadiran traktor perahu listrik ITS dapat menjadi pionir dalam pengembangan alat pertanian listrik yang adaptif terhadap kondisi geografis dan iklim tropis.

Ke depannya, tim ITS berencana melanjutkan pengembangan dan validasi lebih lanjut. Rencana tersebut meliputi integrasi panel surya untuk pengisian daya di daerah terpencil, serta penerapan teknologi smart farming untuk memantau kinerja traktor secara jarak jauh. Jika berhasil, teknologi ini dapat diperluas ke wilayah lain di Indonesia yang memiliki lahan gambut, sehingga meningkatkan produktivitas pertanian secara nasional.

Inovasi ini tidak hanya membawa manfaat ekonomi langsung bagi petani, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih ramah lingkungan dan berdaya saing global. Dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan melindungi ekosistem gambut, traktor listrik ini berpotensi mendukung keamanan pangan sekaligus menjaga keseimbangan alam.

Mengapa Ini Penting

Inovasi traktor perahu listrik ini berpotensi mengubah pola bertani di lahan gambut yang selama ini terpinggirkan, karena biaya operasional jauh lebih rendah dibandingkan traktor bahan bakar fosil. Adopsi traktor listrik juga mendukung komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi pertanian, yang merupakan salah satu penyumbang signifikan gas rumah kaca. Ke depannya, teknologi ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan alat pertanian listrik lainnya yang disesuaikan dengan ekosistem unik Indonesia, termasuk integrasi dengan panel surya di daerah terpencil. Selain itu, skema pengisian daya menggunakan listrik rumah tangga dapat mendorong perluasan akses listrik di pedesaan, sehingga memberikan dampak ganda bagi elektrifikasi nasional.

Sumber Asli
Tempo Tekno
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit