Kolom Tekno

Hisense A10 Usung Layar E Ink dengan Modul LCD Warna Lepas Pasang

Ringkasan

  • Hisense meluncurkan ponsel A10 pada 12 Juli 2026 dengan layar utama E Ink 6,13 inci dan modul LCD warna magnetis yang dapat dilepas, dijual terpisah mulai 590 dolar AS demi fleksibilitas produktivitas.

Hisense A10 hadir sebagai jawaban atas kebutuhan akan perangkat seluler yang ramah mata sekaligus fungsional. Ponsel pintar ini mengusung layar sentuh E Ink berukuran 6,13 inci sebagai panel utama. Layar berbasis kertas elektronik ini dirancang khusus untuk aktivitas membaca, belajar, hingga mencatat nota digital dengan pengalaman visual yang minim silau.

Keunikan utama terletak pada layar sekunder berteknologi LCD warna yang dapat dilepas pasang. Modul tambahan tersebut menempel secara magnetis di bagian punggung perangkat. Pengguna dapat memanfaatkannya untuk menikmati konten multimedia, seperti foto, komik, atau grafik berwarna, tanpa harus mengorbankan kenyamanan layar utama yang monokromatik.

Pengguna tidak wajib membeli layar sekunder tersebut. Hisense membuka opsi penjualan perangkat utama secara mandiri tanpa modul LCD warna. Kebijakan ini memberikan kebebasan bagi konsumen yang memprioritaskan efisiensi biaya serta fokus pada produktivitas tulis-menulis.

Harga perangkat ditetapkan mulai dari 590 dolar AS untuk varian layar E Ink saja. Jika konsumen menginginkan modul LCD warna, mereka harus merogoh kocek lebih dalam karena dijual terpisah. Penetapan harga terpisah ini cukup strategis di tengah tren gadget yang semakin mahal.

Tren ponsel dengan dua layar berbeda bukanlah hal baru di industri teknologi Tiongkok. Brand Bigme sebelumnya merilis kampanye crowdfunding untuk HiBreak Dual 2. Perangkat tersebut juga mengandalkan E Ink di depan dan LCD warna di belakang. Perbedaannya, layar E Ink pada Bigme HiBreak Dual 2 tersedia dalam opsi hitam putih maupun warna. Hisense A10 memilih fokus pada ketajaman monokrom untuk layar utama demi kenyamanan membaca yang optimal.

Latar belakang peluncuran ponsel semacam ini tidak lepas dari kekhawatiran global terhadap kesehatan mata akibat paparan layar biru secara terus-menerus. Banyak profesional mulai mencari perangkat yang bisa membatasi distraksi visual. Layar E Ink menawarkan solusi dengan konsumsi daya rendah dan paparan cahaya yang setara dengan kertas fisik.

Di Indonesia, minat terhadap perangkat pembaca e-book terus meningkat seiring dengan budaya literasi digital yang berkembang pesat. Kehadiran ponsel hibrida seperti Hisense A10 membuka alternatif baru bagi pekerja kantoran dan pelajar. Mereka bisa menikmati notifikasi penting tanpa silau layar terang yang mengganggu fokus saat bekerja atau belajar di ruang terbuka.

Sayangnya, Hisense A10 dipastikan tidak masuk ke pasar resmi Amerika Serikat. Masyarakat Indonesia yang tertarik harus mengandalkan jalur impor melalui platform e-commerce Tiongkok seperti AliExpress atau JD.com. Tantangannya, garansi resmi dan dukungan bahasa Indonesia mungkin tidak tersedia secara penuh. Namun, bagi penggemar gadget niche, rute impor ini sudah menjadi hal lumrah.

Laporan dari Good E Reader mengungkap spesifikasi internal yang bukannya mengejutkan. Hisense A10 ditenagai oleh cip Snapdragon 8 Gen 3. Dukungan konektivitas 5G dan sistem operasi Android 16 turut disematkan untuk memastikan performa perangkat setara ponsel flagship konvensional.

Akun pemerhati teknologi Rock Leaks membagikan detail peluncuran resmi perangkat ini pada 12 Juli 2026. Bocoran tersebut menegaskan fungsi layar warna untuk menampilkan foto, komik, grafik, dan hiburan ringan. Kehadiran A10 menandai babak baru bagi Hisense dalam merebut ceruk pasar ponsel produktivitas.

Penyematan cip kelas atas seperti Snapdragon 8 Gen 3 pada ponsel E Ink menunjukkan arah baru industri. Vendor tidak lagi menganggap perangkat pembaca sebagai gadget kelas rendah dengan spesifikasi tertinggal. Kombinasi hardware tangguh dan layar hemat mata menjadi formula yang mulai dilirik produsen besar.

Ke depannya, konsep modular pada ponsel pintar berpotensi menjadi standar baru bagi konsumen yang mendambakan keseimbangan hidup digital. Fleksibilitas memasang dan melepas layar sekunder akan mengurangi ketergantungan pada satu jenis tampilan sepanjang hari. Inovasi ini membuktikan bahwa masa depan smartphone tidak harus selalu berupa layar sentuh tunggal yang memancarkan cahaya.

Mengapa Ini Penting

Konsep modular pada Hisense A10 menciptakan preseden baru di mana konsumen tidak dipaksa membeli fitur yang tidak mereka butuhkan, berpotensi menekan e-waste dari komponen elektronik yang terbuang. Bagi ekosistem teknologi Indonesia, ketiadaan distribusi resmi mendorong pertumbuhan komunitas importir gadget niche yang semakin kritis terhadap spesifikasi hardware kelas atas seperti Snapdragon 8 Gen 3 pada perangkat non-flagship konvensional. Tren ini juga menggeser paradigma kesehatan digital, membuktikan bahwa pasar mulai menghargai kenyamanan mata melalui layar E Ink daripada sekadar resolusi layar OLED yang semakin tajam.

Sumber Asli
Engadget
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit