Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup intens sepanjang hari Minggu. Berdasarkan data Pos Pengamatan Gunung Semeru, gunung berapi ini mencatat delapan kali erupsi dengan tinggi kolom letusan bervariasi antara 600 hingga 900 meter di atas puncak, menandakan tekanan magmatik yang masih aktif di bawah permukaan.
Erupsi pertama tercatat pada pukul 05.50 WIB dengan kolom abu setinggi 600 meter berwarna putih hingga kelabu, mengarah ke arah tenggara dengan intensitas sedang. Kemudian aktivitas berlanjut berturut-turut pada pukul 06.23 WIB, 09.24 WIB, 12.55 WIB, 15.51 WIB, 16.39 WIB, 18.29 WIB, dan puncaknya pada pukul 19.00 WIB mencapai ketinggian 900 meter di atas puncak atau 4.576 meter di atas permukaan laut. Pada erupsi terakhir ini, arah hembusan abu berubah ke utara, menunjukkan adanya pergeseran pola angin di ketinggian yang perlu dimonitor.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengonfirmasi bahwa hingga laporan diterbitkan, aktivitas erupsi masih berlangsung. Saat ini status aktivitas Gunung Semeru berada pada Level III (Siaga), yang telah diberlakukan sejak Desember 2022 pasca erupsi besar yang menewaskan puluhan jiwa. Status ini berarti gunung api mengalami peningkatan aktivitas yang signifikan namun belum memasuki tahap erupsi magmatik mayor yang berpotensi mengancam wilayah yang lebih luas.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui rekomendasi terbaru menetapkan larangan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Zona ini merupakan jalur utama aliran material piroklastik dan lahar dingin berdasarkan sejarah erupsi sebelumnya, termasuk tragedi Desember 2021 dan Desember 2022. Di luar zona 13 kilometer, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai (sempadan) di sepanjang Besuk Kobokan, mengingat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Larangan ketat juga diberlakukan untuk radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru akibat bahaya lontaran batu api (pijar) yang dapat terjadi tiba-tiba selama erupsi. Petugas pengamatan secara spesifik memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, serta lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, dan sungai-sungai anak kecil yang menyebar dari sistem drainase Besuk Kobokan.
Tutupan jalur pendakian oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang bertepatan dengan Hari Raya Karo memperkuat mitigasi risiko bagi wisatawan dan pendaki. Kebijakan ini tidak hanya bersifat simbolis melainkan respons nyata terhadap ketidakpastian aktivitas vulkanik yang dapat berubah drastis dalam hitungan jam. Sejarah mencatat bahwa erupsi Semeru sering kali didahului oleh peningkatan frekuensi erupsi vulkanian seperti yang terjadi saat ini, sebelum beralih ke fase efusif atau paroksismal yang lebih berbahaya.
Dari sisi teknis, pola erupsi berulang dengan tinggi kolom yang relatif konsisten (600-900 meter) mengindikasikan adanyaupply magma yang stabil dari Kammer magmatik dangkal, namun belum menunjukkan tanda-tanda dekompresi cepat yang mengarah pada erupsi Plinian besar. Pemantauan seismik, deformasi tanah, dan emisi gas SO2 menjadi parameter kritis untuk mendeteksi transisi ke fase yang lebih berbahaya. BMKG dan PVMBG terus mengkoordinasikan pemantauan real-time melalui jaringan seismograf, GPS, dan satelit.
Bagi masyarakat di kaki gunung, kesiapsiagaan bukan sekadar mengikuti rekomendasi larangan zona, melainkan mempersiapkan tas siaga, mengenal rute evakuasi, dan memahami sistem peringatan dini berbasis kentongan atau sirine yang dikelola oleh BPBD setempat. Koordinasi lintas sektor antara PVMBG, BPBD Kabupaten Lumajang dan Malang, TNBTS, serta aparat keamanan menjadi kunci untuk memastikan tidak ada korban jiwa jika aktivitas meningkat mendadak. Sejarah telah membuktikan bahwa mitigasi berbasis komunitas di Semeru efektif menurunkan risiko bencana.