Gopizza, rantai pizza asal Korea Selatan yang dikenal dengan konsep pizza ukuran personal dan teknologi pengovenan otomatis, secara resmi mengubah arah strategi bisnisnya. Perusahaan memutuskan memangkas operasional di Singapura — yang selama ini menjadi basis ekspansi regional — dan menumpangkan seluruh sumber daya untuk mengejar pangsa pasar di India. Keputusan ini diambil setelah catatan keuangan menunjukkan kerugian yang terus mengembang seiring dengan laju ekspansi global yang cepat.
Menurut data internal yang dicatat Tech in Asia, Gopizza mencatat kerugian netto sebesar 1,2 miliar won Korea Selatan (sekitar Rp 14 miliar) pada tahun 2023, melonjak tajam dari 400 juta won tahun sebelumnya. Singapura, yang hanya menyumbang sekitar 15 persen dari total pendapatan, justru menjadi penyumbang biaya operasional tertinggi akibat sewa tempat tinggi dan tenaga kerja mahal. Kondisi ini memaksa manajemen untuk mengevaluasi ulang portofolio geografis mereka.
Latar belakang keputusan ini tidak terlepas dari tekanan investor. Gopizza telah mengumpulkan dana hingga seri B dari sejumlah investor besar, termasuk Altos Ventures dan KB Investment. Para investor mulai menuntut jalur menuju *break-even* setelah beberapa tahun pertumbuhan agresif yang didanai *cash burn* besar. Singapura, meskipun memiliki daya beli tinggi, pasarnya terbatas — hanya 5,6 juta penduduk — dan sudah sangat jenuh dengan pemain F&B baik lokal maupun global.
Di sisi lain, India menawarkan narasi yang kontras. Dengan populasi 1,4 miliar jiwa dan kelas menengah yang berkembang pesat, India menjadi pasar pizza tercepat tumbuh di Asia Pasifik. Riset Euromonitor mencatat pasar pizza India tumbuh 18 persen per tahun (CAGR 2023-2028), jauh melampaui rata-rata regional 6 persen. Gopizza sudah mendirikan 40 gerai di India sejak masuk 2022, dan menargetkan 300 outlet hingga 2026. Model *cloud kitchen* dan *quick-service* mereka cocok dengan kebiasaan konsumen India yang mengutamakan efisiensi dan harga terjangkau.
Perpindahan fokus ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri *food tech* Asia Tenggara: perusahaan mulai meninggalkan pasar *mature* dengan margin tipis demi pasar *emerging* yang menjanjikan skala. Di Indonesia, pola serupa terlihat pada beberapa rantai F&B asal Korea dan Jepang yang memilih memperluas jaringan di Jakarta dan kota-kota metropolitan kedua dibandingkan mencoba ke Singapura. Pasar Indonesia dengan 280 juta penduduk dan penetrasi *food delivery* tinggi justru lebih menarik bagi model bisnis *asset-light* seperti Gopizza.
Namun, tantangan di India tidaklah kecil. Persaingan sangat ketat dengan pemain lokal seperti Domino's India (yang dikendalikan Jubilant FoodWorks) dan Pizza Hut, serta rantai lokal baru seperti La Pino'z yang sudah memiliki 500 lebih outlet. Sensitivitas harga konsumen India juga ekstrem — Gopizza harus menjual pizza personal di kisaran 99-199 rupee (Rp 19.000-38.000) untuk bersaing, jauh di bawah harga di Singapura yang bisa mencapai 15 dolar Singapura (Rp 180.000). Margin akan sangat tipis dan bergantung pada efisiensi *supply chain* dan otomasi dapur.
CEO dan pendiri Gopizza, Jay Lim, dalam wawancara sebelumnya menegaskan bahwa teknologi *Goven* — oven otomatis yang memanggang pizza dalam 90 detik tanpa tenaga ahli — menjadi *moat* kompetitif mereka. "Kita tidak menjual pizza, kita menjual sistem yang bisa mereplikasi kualitas konsisten di mana saja dengan tenaga kerja minimal," ujarnya. Sistem ini memungkinkan satu outlet dioperasikan hanya oleh dua orang, mengurangi ketergantungan pada *chef* berpengalaman yang sulit ditemukan dan mahal di India.
Sementara itu, kehadiran Gopizza di Singapura tidak sepenuhnya dihapus. Perusahaan mempertahankan beberapa outlet *flagship* dan dapur pusat untuk R&D, tetapi tim *country management* telah dipangkas signifikan. Beberapa eksekutif senior Singapura dialihkan ke India atau diberhentikan. Restrukturisasi ini diperkirakan menghemat biaya tetap bulanan sekitar 300.000 dolar Singapura, dana yang dialokasikan untuk *marketing* dan ekspansi *cloud kitchen* di Delhi, Mumbai, dan Bangalore.
Bagi ekosistem *food tech* Indonesia, langkah Gopizza menawarkan pelajaran strategis. Pertama, skala pasar menentukan kelayakan model *high-tech, low-labor* — Indonesia dengan demografi muda dan urbanisasi tinggi cocok untuk model ini. Kedua, keberhasilan di India bisa menjadi *blueprint* untuk ekspansi ke Indonesia, mengingat kemiripan tantangan: geografis yang tersebar, infrastruktur *logistics* yang bervariasi, dan konsumen peka harga. Beberapa investor venture capital Indonesia sudah mulai mencari *founder* dengan model serupa untuk didanai.
Ke depan, Gopizza berencana meluncurkan lini produk *localized* khusus India — seperti *paneer tikka* dan *schezwan chicken* — yang dikembangkan di *test kitchen* Singapura yang ditinggalkan. Jika eksekusi di India berhasil mencapai *unit economics* positif dalam 18 bulan, jangan heran jika Gopizza mendatangkan model yang sama ke Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Pasar pizza Indonesia yang masih terfragmentasi dan tumbuh 12 persen per tahun menunggu pemain dengan sistem yang terbukti *scalable*.