Artificial Intelligence

Google Borong 400 MW Listrik Geotermal Fervo Demi Ambisi AI

Bagikan: X Facebook WhatsApp Telegram LinkedIn
Google Borong 400 MW Listrik Geotermal Fervo Demi Ambisi AI

Ringkasan

  • Google sepakat membeli 396 MW listrik dari Fervo Energy untuk mendukung pusat data di Utah, memperkuat ambisi AI perusahaan di tengah target net-zero emission tahun 2030.

Google resmi memperkuat komitmen energi bersihnya dengan menandatangani perjanjian pembelian listrik sebesar 396 megawatt dari pembangkit listrik Cape Station milik Fervo Energy di Utah, Amerika Serikat. Kesepakatan ini menjadi langkah strategis bagi raksasa teknologi tersebut untuk mendukung kebutuhan daya pusat data masa depan yang akan beroperasi mulai 2028.

Selain angka pokok tersebut, Google juga memegang opsi untuk menambah pasokan listrik hingga 600 megawatt tambahan hingga Juni 2030. Langkah ini menegaskan posisi Google sebagai salah satu pembeli energi bersih terbesar di dunia, sekaligus menjadi upaya nyata perusahaan dalam menjaga target net-zero emission pada 2030 di tengah lonjakan konsumsi energi oleh infrastruktur kecerdasan buatan.

Kebutuhan akan listrik yang stabil dan berkelanjutan menjadi tantangan besar bagi para pemain teknologi global atau hyperscalers. Sebelumnya, Google sempat menuai kritik saat menandatangani kontrak 933 megawatt dengan pengembang pusat data Crusoe yang berbasis pada tenaga gas alam di Texas. Kesepakatan dengan Fervo ini menjadi penyeimbang krusial agar ekspansi AI tidak mengorbankan target keberlanjutan lingkungan perusahaan.

Teknologi geotermal yang dikembangkan Fervo, yakni Enhanced Geothermal Systems (EGS), memungkinkan perusahaan mengakses sumber panas di kedalaman yang sebelumnya sulit dijangkau. Berdasarkan laporan Departemen Energi Amerika Serikat, potensi teknologi ini sangat masif, bahkan diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 57 terawatt listrik di seluruh negeri.

Potensi di Cape Station sendiri sebenarnya jauh melampaui angka kontrak saat ini. Fervo memiliki izin untuk mengembangkan hingga 2 gigawatt, namun analisis pihak ketiga menunjukkan bahwa situs tersebut menyimpan cadangan panas yang cukup untuk menghasilkan kapasitas dua kali lipat lebih besar. Jika dioptimalkan, proyek ini berpotensi menggandakan total kapasitas energi geotermal Amerika Serikat saat ini.

Bagi industri teknologi, kesepakatan ini menjadi sinyal bahwa energi terbarukan dengan beban dasar (baseload) seperti geotermal kini menjadi pilihan utama. Berbeda dengan tenaga surya atau angin yang bersifat intermiten, geotermal mampu beroperasi 24 jam penuh, menjadikannya mitra ideal bagi pusat data yang membutuhkan pasokan listrik stabil tanpa henti.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan potensi geotermal terbesar di dunia. Namun, pengembangan teknologi EGS seperti yang dilakukan Fervo masih sangat terbatas. Sebagian besar proyek geotermal di Indonesia masih mengandalkan sistem konvensional yang hanya bisa dibangun di area dengan karakteristik geologi spesifik.

Jika perusahaan teknologi besar di Indonesia mulai mengikuti jejak Google dalam memburu energi bersih, adopsi teknologi pengeboran canggih seperti EGS bisa menjadi kunci percepatan transisi energi di Tanah Air. Ini akan mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbasis batu bara yang masih mendominasi bauran energi nasional.

Hubungan antara Google dan Fervo bukanlah hal baru. Kedua perusahaan telah menjalin kemitraan selama lebih dari lima tahun, bahkan Google tercatat sebagai salah satu investor dalam putaran pendanaan Fervo sebelum perusahaan tersebut melantai di bursa saham. Berita mengenai kesepakatan terbaru ini pun sempat mengerek nilai saham Fervo hingga 30% di pasar modal.

Ke depannya, tren penggunaan energi geotermal oleh raksasa teknologi diprediksi akan terus meningkat. Fokus pada efisiensi dan skalabilitas melalui teknologi Enhanced Geothermal menjadi jawaban atas dilema antara ambisi komputasi AI yang haus energi dan tanggung jawab terhadap krisis iklim global.

Langkah Google ini menjadi preseden penting bagi ekosistem startup energi di seluruh dunia. Ketika perusahaan besar berani berkomitmen pada teknologi yang masih dalam fase pengembangan lanjut, hal ini membuka jalan bagi inovasi lain untuk mendapatkan pendanaan dan dukungan pasar yang lebih luas.

Bagi para pengembang pusat data di Indonesia, model kemitraan jangka panjang ini bisa menjadi referensi. Mengintegrasikan operasional pusat data langsung dengan sumber energi terbarukan yang stabil bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar agar bisnis tetap relevan di masa depan yang menuntut standar emisi karbon lebih ketat.

Mengapa Ini Penting

Berita ini krusial bagi Indonesia karena menunjukkan bagaimana teknologi geotermal dapat menjadi solusi energi baseload bagi pusat data yang haus daya. Di tengah ambisi digitalisasi nasional, ketergantungan pada energi fosil bisa menjadi hambatan bagi perusahaan teknologi yang ingin mencapai standar ESG global. Adopsi teknologi EGS dapat membuka potensi geotermal Indonesia di luar wilayah vulkanik konvensional, sekaligus mempercepat transisi energi nasional.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Google Borong 400 MW Listrik Geotermal Fervo Demi Ambisi AI"?

Google sepakat membeli 396 MW listrik dari Fervo Energy untuk mendukung pusat data di Utah, memperkuat ambisi AI perusahaan di tengah target net-zero emission tahun 2030.

Mengapa Artificial Intelligence ini penting?

Berita ini krusial bagi Indonesia karena menunjukkan bagaimana teknologi geotermal dapat menjadi solusi energi baseload bagi pusat data yang haus daya. Di tengah ambisi digitalisasi nasional, ketergantungan pada energi fosil bisa menjadi hambatan bagi perusahaan teknologi yang ingin mencapai standar ESG global. Adopsi teknologi EGS dapat membuka potensi geotermal Indonesia di luar wilayah vulkanik

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
2 September 2026
Waktu Baca
4 menit