Kolom Tekno

GMO Hapus WFH, Ketikan Keyboard Jadi Ukuran Produktivitas yang Keliru

Ringkasan

  • GMO Internet Group mengakhiri kerja remote pada 13 Juli lalu karena ketikan keyboard karyawan menurun, memicu debat produktivitas di Jepang.

GMO Internet Group secara resmi menghentikan seluruh kebijakan kerja jarak jauh pada 13 Juli lalu. Pendiri sekaligus CEO Masatoshi Kumagai memaparkan alasan berupa penurunan volume ketikan keyboard per jam saat karyawan bekerja dari rumah. Ia mengakui sebagian individu lebih produktif secara remote, namun secara keseluruhan dinilai sebagai kerugian bersih.

Reaksi di kalangan teknologi Jepang langsung terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama memuji keberanian perusahaan yang berani menyatakan fakta. Kubu kedua mengecam praktik mengukur kebisingan keyboard lalu menyebutnya produktivitas. Kedua kubu sebenarnya sedang berdebat soal hal yang salah sasaran.

GMO bukan perusahaan yang tiba-tiba anti-remote. Perusahaan ini menerapkan kerja jarak jauh penuh sejak Januari 2020, termasuk yang paling awal di Jepang melakukannya. Kebijakan itu berlaku beberapa hari sebelum COVID-19 ditetapkan sebagai darurat kesehatan masyarakat di negara tersebut.

Pada 2023, GMO merevisi aturan menjadi kantor sebagai basis utama. Mereka menyisakan satu hari kerja remote seminggu demi daya saing perekrutan dan kualitas hidup karyawan. Langkah kompromi itu bertahan hingga pengumuman terbaru.

Pengumuman Juli 2026 menghapus sisa satu hari remote tersebut. Kumagai membingkai keputusan dalam konteks revolusi industri berbasis kecerdasan buatan. “Kita berada di tengah revolusi industri terbesar umat manusia. Kami menyingkirkan apa pun yang membuat kami kalah,” tegasnya. Artinya, eksperimen enam tahun dilakukan dalam skala besar sebelum ditarik garis kesimpulan.

Masalah utama terletak pada metrik ketikan keyboard. Alat itu hanya mencatat apakah jari menekan tombol. Seorang insinyur yang mengetik cepat untuk memperbaiki bug buatan sendiri akan tercatat sebagai bintang. Rekannya yang merenung di depan papan tulis lalu menulis sepuluh baris kode penyederhanaan sistem justru dianggap menganggur.

Ironi muncul karena GMO gencar mendukung AI. Kumagai pernah menyebut AI menekan biaya dari lima puluh juta yen menjadi tiga puluh ribu yen. Jika insinyur menggunakan alat coding AI sesuai anjuran, jumlah ketikan pasti turun. Itu justru tujuan dari alat tersebut. Menuntut adopsi AI sekaligus menilai karyawan dari volume ketikan berarti mengoptimasi dua metrik yang bertentangan.

Di Indonesia, pola kerja hibrida sudah mengakar di komunitas teknologi Jakarta, Bandung, dan kota lain. Banyak startup mengandalkan Slack, Zoom, dan dasbor digital untuk kolaborasi. Namun, kebiasaan manajer menilai kinerja dari kehadiran fisik atau indikator pengganti juga kerap muncul.

Survei Microsoft Work Trend Index terhadap 20.000 pekerja pengetahuan pada 2022 menunjukkan 87% karyawan merasa produktif. Di sisi lain, 85% pemimpin menganggap kerja hibrida membuat sulit mempercayai produktivitas tersebut. Microsoft menyebut fenomena ini sebagai “paranoia produktivitas”. Di Indonesia, jarak antara manajemen dan tim sering memicu dinamika serupa.

Kumagai menegaskan perusahaannya tengah berada di pusat revolusi industri. Pernyataannya memperlihatkan keyakinan bahwa eliminasi remote merupakan langkah penyelamatan daya saing. Kendati demikian, studi independen memberikan gambaran berbeda soal dampak sebenarnya.

Uji acak terkontrol Nicholas Bloom di Trip.com yang diterbitkan Nature pada 2024 melibatkan 1.600 profesional. Separuh bekerja lima hari di kantor, separuh hibrida dengan dua hari di rumah. Hasilnya tidak ada perbedaan produktivitas, penilaian kinerja, maupun promosi. Yang berubah adalah retensi: tingkat pengunduran diri turun 33% pada kelompok hibrida, menghemat jutaan dolar.

Contoh ekstrem penolak tesis “remote tidak berhasil” adalah GitLab. Perusahaan ini all-remote sejak awal berdiri karena pendiri di Belanda dan Ukraina terpisah 2.000 kilometer. Karyawan pertama mereka di Serbia. Tanpa kantor pun, GitLab tumbuh jadi sekitar 2.000 pegawai di lebih dari 60 negara dan go public.

Gartner meneliti mandat kembali ke kantor dan tidak menemukan kenaikan produktivitas terukur. Yang muncul justru penurunan moral dan kepercayaan. Amazon yang mewajibkan lima hari kantor sejak Januari 2025 beralasan soal budaya, bukan data produktivitas. Survei internal mereka menunjukkan mayoritas memprediksi produktivitas turun, hampir separuh mulai melamar ke tempat lain.

Tren ke depan menunjukkan mandat kantor penuh tanpa dasar data akan sulit bertahan. Perusahaan di Indonesia sebaiknya mempelajari metrik output nyata bukan indikator pengganti. Adopsi AI semakin mengurangi ketikan keyboard, membuat penghitungan ketikan jadi usang.

Kerja hibrida yang dikelola baik diproyeksikan tetap menjadi standar global. Pemimpin perlu memilih antara mengukur kehadiran atau mengukur hasil. GMO mungkin berani, tapi bukti empiris menunjukkan mereka salah mengukur.

Mengapa Ini Penting

Percepatan adopsi AI di perusahaan Asia Tenggara membuat metrik berbasis aktivitas seperti ketikan keyboard semakin usang. Jika perusahaan Indonesia meniru mandat kantor tanpa merevisi penilaian kinerja, produktivitas nyata terabaikan dan biaya retensi talenta melonjak. Ekosistem teknologi lokal perlu menetapkan standar output yang jelas sebelum tren return-to-office meluas.

Sumber Asli
Dev.to
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit