Peneliti dari University of St Andrews menemukan bahwa suhu lingkungan yang melonjak membuat kumbang pengubur kehilangan kemampuan mengenali pasangan kawin. Gangguan tersebut dipicu oleh perubahan profil kimiawi pada lapisan pelindung tubuh serangga akibat tekanan panas.
Studi yang dipimpin Solène Morelle itu menunjukkan kumbang jantan kerap menunggangi sesama jantan ketika terpapar suhu tinggi. Kesalahan perilaku ini muncul karena sistem komunikasi penciuman pada serangga ektotermik terganggu secara langsung oleh stres termal.
Kumbang pengubur sangat bergantung pada senyawa kimia untuk berinteraksi satu sama lain. Mereka menggunakan lapisan cuticular hydrocarbons atau CHC di kulit luar sebagai media sinyal sekaligus pelindung dari dehidrasi saat cuaca ekstrem.
Dalam kondisi normal, CHC berfungsi ganda dengan proporsi rantai molekul yang seimbang. Namun saat suhu naik, tubuh kumbang secara otomatis memanjangkan rantai CHC agar senyawa tidak mudah menguap dan air tubuh terjaga.
Perubahan struktur kimia itu mengorbankan fungsi pemberian sinyal. Akibatnya, kumbang jantan tidak lagi membaca tanda kimiawi yang menunjukkan jenis kelamin lawan secara akurat.
Tim peneliti menguji perilaku serangga dalam dua skenario laboratorium. Tangki pertama bersuhu 20 derajat Celsius sebagai kontrol, sedangkan tangki kedua mensimulasikan gelombang panas 26 derajat Celsius selama tiga hari.
Analisis memakai kromatografi gas-spektrometri massa mengonfirmasi pergeseran komposisi CHC pada kumbang yang terpapar panas. Pada suhu normal, kesalahan kawin antarjantan terjadi namun intensitasnya jauh lebih rendah dibanding saat stres suhu tinggi.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat frekuensi gelombang panas lokal meningkat seiring perubahan iklim. Ekosistem pertanian kita bergantung pada serangga pengurai bangkai dan tanah yang menjaga keseimbangan hara.
Kumbang pengubur dikenal memiliki perilaku sosial kompleks. Induk jantan dan betina harus kompak mengubur bangkai, membangun sarang, memberi makan larva, serta menghalau predator.
Morelle menyatakan bahwa perubahan profil CHC akibat panas mengubah perilaku dan hasil reproduksi secara nyata. Ia menekankan ada pertukaran langsung antara fungsi pemberian sinyal dan fungsi pelindung air pada lapisan kimia tubuh serangga.
Koordinasi seluruh proses reproduksi sangat bergantung pada komunikasi kimiawi yang efektif. Jika stres panas memutus jalur penciuman, penurunan kesuksesan reproduksi bakal langsung terjadi pada populasi.
Studi ini dipresentasikan pada Society for Experimental Biology di Florence, Italia, pada 7-9 Juli. Konferensi tahunan itu menjadi ruang diskusi ilmuwan biologi dunia terkait dampak suhu terhadap makhluk hidup.
Ke depan, peneliti perlu menguji apakah efek panas bersifat permanen atau pulih setelah suhu normal. Pemahaman atas mekanisme CHC dapat membantu model prediksi kepunahan serangga di wilayah tropis seperti Indonesia.