Game Freak, studio yang dikenal dengan waralaba Pokémon, kembali mencoba sesuatu yang berbeda. Lewat "Beast of Reincarnation", mereka merilis game aksi pasca-apokaliptik yang akan hadir pada 4 Agustus mendatang untuk PlayStation 5, Xbox, dan PC. Ini bukan sekadar game biasa; ini adalah upaya studio Jepang tersebut membuktikan bahwa mereka mampu berkarya di luar bayang-bayang monster saku.
Dalam ulasan yang dirilis The Verge, game ini menawarkan pertarungan yang halus dan penuh kebebasan. Namun, di balik aksinya yang memukau, banyak elemen lain terasa dangkal dan terlalu banyak meminjam dari game-game besar lain. Alhasil, "Beast of Reincarnation" menjadi semacam teka-teki: menarik untuk dicoba, tapi sulit menemukan identitasnya sendiri.
Kisahnya berlatar 2.000 tahun di masa depan, ketika Jepang hancur dan manusia memindahkan kesadaran mereka ke robot golem. Dunia diserang wabah misterius yang mengubah satwa liar menjadi monster mutan. Pemain berperan sebagai Emma, seorang tentara bayaran yang bisa menyerap kekuatan musuh yang kalah. Tugasnya sederhana: menjelajah dunia, menguatkan diri, dan mengalahkan makhluk abadi yang disebut Beast.
Game Freak memang punya sejarah panjang meluncurkan eksperimen aneh di sela-sela rilis Pokémon. Mulai dari game aksi tentang gajah militer hingga balapan kuda bergaya kartu. "Beast of Reincarnation" adalah bentuk ambisi mereka untuk masuk ke genre blockbuster action yang selama ini didominasi studio Barat seperti FromSoftware atau Santa Monica Studio.
Sistem pertarungan menjadi nilai jual utama. Emma adalah karakter samurai lincah yang mengandalkan pedang dan busur. Sekilas, gameplay-nya mirip "Elden Ring" atau "Dark Souls", penuh timing dan penghindaran. Namun, kemampuan unik Emma membuatnya berbeda. Rambutnya bisa tumbuh menjadi sulur tanaman untuk membangun jembatan, menarik tubuh ke tempat tinggi, atau bahkan menyembunyikannya saat menyelinap. Ada juga anjing raksasa yang menemaninya, membantu bertarung dan mengambil barang jarahan.
Sayangnya, setelah beberapa jam bermain, kebaruan itu memudar. Level dirancang sangat linier dan membosankan. Sistem upgrade senjata serta mekanik bercocok tanam terlalu sederhana hingga mudah dilupakan. Pohon keterampilan game ini bahkan berbentuk pohon sungguhan — sebuah ironi yang terasa seperti lelucon tanpa maksud.
Yang lebih mengecewakan adalah alur ceritanya. Game ini sengaja menyimpan banyak misteri, tetapi misteri itu tidak pernah terurai dengan memuaskan. Baru setelah belasan jam, pemain mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, saat jawaban datang, semuanya terasa hambar. Ceritanya seperti versi encer dari "Nier: Automata", sementara desain bosnya mengingatkan pada "Monster Hunter" dan "Wild Hearts". Bahkan markas berjalan yang bisa dipakai untuk mandi tampak seperti AT-ST dari "Star Wars".
Bagi penggemar game di Indonesia, perilisan ini tetap patut diperhatikan. Pasar game PC dan konsol Tanah Air tumbuh pesat. Game-game bergaya Souls-like makin populer, terutama setelah kesuksesan "Elden Ring" di kalangan gamer lokal. "Beast of Reincarnation" bisa menjadi pintu masuk menarik bagi yang ingin mencoba game aksi dengan nuansa Jepang yang kental, meski standar kualitasnya masih jauh dari para pesaingnya.
Studio seperti Game Freak juga menjadi contoh bagaimana pengembang besar berani mengambil risiko. Di Indonesia, banyak studio indie mulai melirik genre action dan RPG. Mereka bisa belajar dari kegagalan "Beast": grafis dan mekanik menarik saja tidak cukup. Fondasi cerita dan desain level yang solid sama pentingnya untuk menciptakan pengalaman yang berkesan.
Jika melihat jejak langkah Game Freak, pola ini bukanlah kebiasaan baru. Setiap beberapa tahun, mereka menyelipkan proyek kecil di sela-sela produksi besar. Sayangnya, sebagian besar eksperimen itu gagal lepas dari gaya dasar yang sudah mereka kuasai. "Beast of Reincarnation" menunjukkan bahwa meski punya banyak ide, menyatukannya menjadi satu karya utuh tetap menjadi pekerjaan rumah terbesar.
Game ini tetap memiliki sisi menarik. Suasana melankolis yang dibangun lewat musik dan visualnya berhasil menciptakan atmosfer sendu yang kuat. Beberapa momen pertarungan sangat seru, terutama saat Emma memadukan kemampuan rambut dan anjingnya untuk serangan kombinatorial. Namun, semua kilasan itu tenggelam oleh rasa pernah melihat semuanya sebelumnya.
Bagi yang penasaran, "Beast of Reincarnation" bisa dimainkan di PS5, Xbox Series, dan PC mulai 4 Agustus. Game ini bukan pengganti "Pokémon", dan juga belum layak disandingkan dengan "Elden Ring". Ia hanya sebuah bukti bahwa kadang, keluar dari zona nyaman tidak selalu berarti menemukan arah baru.