Kolom Tekno

Fundamental JavaScript: Mengapa let dan const Gantikan var dalam Pengembangan Web Modern

Ringkasan

  • Pengembang web Indonesia wajib paham evolusi variabel JavaScript dalam ekosistem sejak rilis ES6 2015, di mana let dan const gantikan var cegah bug.

JavaScript merupakan bahasa pemrograman tingkat tinggi yang interpretatif serta serbaguna, berfungsi sebagai tulang punggung interaktivitas situs web modern. Bersama dengan HTML yang membangun struktur dan CSS yang mengatur tampilan, JavaScript menginjeksi perilaku serta fungsionalitas ke dalam halaman internet. Setiap kali pengguna menekan tombol, mengisi formulir, atau melihat animasi dinamis, kode JavaScript sedang bekerja di balik layar.

Inti dari setiap logika pemrograman dalam bahasa ini terletak pada penggunaan variabel. Bayangkan variabel sebagai sebuah wadah penyimpanan data yang diberi label tertentu. Sebuah kotak bernama "nama" dapat menyimpan teks "Dharanidharan" untuk dipanggil kembali saat dibutuhkan. Kemampuan menyimpan dan memanipulasi informasi inilah yang membuat program komputer menjadi cerdas dan responsif terhadap input manusia.

Sejarah penulisan variabel dalam JavaScript tidak selalu seindah kondisi saat ini. Sebelum tahun 2015, pengembang web hanya mengandalkan kata kunci `var` untuk mendeklarasikan setiap variabel dalam kode mereka. Pendekatan tunggal ini berlangsung selama dua dekade sejak bahasa tersebut diciptakan. Praktik lama ini kerap memicu kebingungan serta kesalahan logika yang sulit dilacak bagi para programmer.

Masalah utama pada `var` terletak pada cakupan fungsinya yang longgar serta perilaku pengangkatan (hoisting). Variabel yang dideklarasikan dengan `var` di dalam blok perulangan atau kondisi `if` tetap dapat diakses dari luar blok tersebut. Lebih parah lagi, `var` mengizinkan deklarasi ulang pada variabel yang sama dalam satu cakupan tanpa memunculkan peringatan error. Kondisi ini sangat rawan memicu penimpaan nilai data secara tidak sengaja.

Jalan keluar dari kekacauan tersebut hadir pada Juni 2015 melalui pembaruan standar ECMAScript 6, yang lazim disebut ES6. Rilis mayor ini membawa dua kata kunci baru yang merevolusi cara penulisan kode: `let` dan `const`. Penambahan ini bukan sekadar gimmick sintaksis, melainkan upaya serius komunitas untuk menciptakan ekosistem pemrograman yang lebih aman dan terprediksi.

Bagi ekosistem teknologi di Indonesia, adopsi `let` dan `const` menjadi standar mutlak dalam pembangunan aplikasi web maupun mobile. Perusahaan rintisan (startup) lokal mengandalkan kerangka kerja (framework) modern seperti React dan Vue yang menuntut penggunaan deklarasi variabel terbaru. Developer pemula di Tanah Air yang masih terjebak menggunakan `var` akan kesulitan berkolaborasi dalam tim pengembangan perangkat lunak profesional.

Perguruan tinggi serta bootcamp coding di Jakarta, Bandung, dan Surabaya telah menyesuaikan kurikulum mereka sejak lima tahun terakhir. Mereka mengajarkan `let` sebagai opsi utama untuk data yang nilainya berubah-ubah selama eksekusi program. Sementara itu, `const` diajarkan sebagai perlindungan bawaan untuk nilai yang seharusnya tetap sepanjang siklus hidup aplikasi. Perubahan pedagogi ini mempercepat matangnya kualitas talenta digital Indonesia.

Kewajiban menginisialisasi `const` sejak pertama kali dideklarasikan menjadi pelajaran berharga tentang disiplin penulisan kode. Tidak seperti `let` yang bisa kosong, `const` memaksa programmer untuk mendefinisikan nilai secara pasti, misalnya `const country = "India"`. Ketegasan ini mengurangi risiko variabel tak terdefinisi yang kerap merusak performa situs saat traffic sedang tinggi.

Logika di balik pembatasan `let` sangat masuk akal bagi skalabilitas perangkat lunak. Kata kunci ini melarang deklarasi ganda dalam satu blok kode, sehingga menghindari tabrakan nama variabel. Apabila sebuah variabel bernama `y` telah diisi angka 10, sistem akan menolak jika `y` dideklarasikan ulang, meski pengisian ulang nilai menjadi 20 tetap diizinkan.

Di sisi lain, `const` menawarkan jaminan keamanan referensi yang tidak bisa diganggu gugat. Begitu sebuah variabel `z` dikunci dengan nilai 10, upaya mengubahnya menjadi 20 akan langsung memicu error fatal pada mesin JavaScript. Pendekatan ketat semacam ini mencerminkan filosofi pengembangan web modern yang memprioritaskan stabilitas di atas fleksibilitas tanpa batas.

Tren ke depan menunjukkan bahwa pemahaman dasar variabel ini akan menjadi fondasi wajib sebelum seseorang beralih ke bahasa turunan seperti TypeScript. TypeScript, yang banyak diadopsi raksasa teknologi global, sejatinya memperluas konsep `let` dan `const` dengan pengetikan statis yang lebih kaku. Penguasaan struktur dasar JavaScript hari ini menentukan kelancaran adaptasi terhadap alat pengembangan masa depan.

Komunitas pengembang di Indonesia diproyeksikan akan terus meninggalkan `var` secara total dari repositori kode mereka. Pembaruan alat peninjau kode (linter) otomatis pun kini secara default menolak penggunaan `var`. Evolusi dari kekacauan `var` menuju kedisiplinan `let` dan `const` membuktikan bahwa bahasa pemrograman terus bertransformasi demi efisiensi manusia.

Mengapa Ini Penting

Penguasaan deklarasi variabel modern bukan sekadar preferensi sintaksis, melainkan prasyarat masuk ke pasar kerja teknologi Indonesia yang semakin kompetitif. Ketergantungan startup lokal pada ekosistem open-source global membuat standar penulisan kode yang bersih menjadi kebutuhan operasional untuk meminimalisasi biaya perawatan perangkat lunak. Di samping itu, transisi dari var ke let dan const menjadi indikator kesiapan talenta digital domestik dalam beradaptasi dengan arsitektur perangkat lunak skala enterprise. Kegagalan menginternalisasi konsep dasar ini akan mempersempit peluang developer lokal untuk berkontribusi pada proyek kolaboratif internasional.

Sumber Asli
Dev.to
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit