Artificial Intelligence

Festival Kaghati Kolope: Muna Bangkitkan Layang-Layang Prasejarah sebagai Ikon Warisan Budaya

Ringkasan

  • Festival Kaghati Kolope di Muna menghidupkan tradisi layang-layang prasejarah yang terukir di lukisan Goa Liangkobori.
  • Terbuat sepenuhnya dari bahan alam—daun kolope, bambu, serat nanas—warisan ini jadi simbol harmoni alam dan identitas budaya yang dikemas jadi daya tarik wisata.

Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Minggu (12/7/2026) — Di tengah gemuruh modernitas yang sering kali menggeser tradisi lisan dan material, Kabupaten Muna justru memilih untuk mundur ke akar paling dalam peradabannya. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata bekerjasama dengan Desa Liangkabori menggelar Festival Layang-Layang "Kaghati Kolope" di kawasan Cagar Budaya Goa Liangkobori. Acara ini bukan sekadar perlombaan terbang layang-layang, melainkan pernyataan kolektif untuk melestarikan jejak peradaban yang umurnya mencapai ribuan tahun.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna, LM Masrul, menegaskan bahwa festival ini menjadi momentum vital untuk merekoneksikan generasi muda dengan warisan leluhur. "Layang-layang Kaghati Kolope ini merupakan layang-layang purba. Jejak sejarahnya terekam jelas pada situs Goa Liangkobori, di mana terdapat lukisan dinding prasejarah yang menggambarkan orang sedang menerbangkan layang-layang," ujar Masrul saat ditemui di lokasi. Temuan arkeologis tersebut menempatkan tradisi Kaghati Kolope tidak hanya sebagai hiburan, melainkan bukti visual kontinyuitas budaya yang langka di Nusantara.

Keunikan Kaghati Kolope terletak pada filosofi material yang nol limbah dan sepenuhnya bersumber dari alam. Badan layangan terbuat dari daun umbi hutan yang dikenal lokal sebagai kolope, yang dikeringkan melalui proses tradisional turun-temurun. Rangka menggunakan bambu, sedangkan tali terbang disiapkan dari serat nanas atau serat kulit pohon. Kombinasi material ini menciptakan estetika terbang yang khas—lambat, melayang, dan responsif terhadap angin—berbeda jauh dengan layang-layang modern berbahan sintetis.

Dalam perlombaan yang diikuti tujuh layang-layang tradisional dan sekitar 20 layang-layang kreasi, panitia menetapkan kriteria penilaian yang ketat. Aspek "natural" menjadi penentu utama: seluruh bahan harus berasal dari sumber daya alam tradisional tanpa campuran bahan buatan. Di samping itu, dinilai juga kemampuan terbang (stabilitas, ketinggian, ketahanan angin) serta kelengkapan aksesoris pendukung seperti pengait tali dan pemanggang tali yang juga terbuat kayu atau bambu. Ketatnya aturan ini memastikan esensi warisan tidak terlarut dalam kreativitas kontemporer.

Proses pembuatan satu unit Kaghati Kolope sendiri membutuhkan kesabaran dan keahlian tinggi. Peserta Laode Sainal mengungkapkan, pengerjaan bisa memakan waktu satu hingga lima hari tergantung kemahiran perajin. "Layang-layang ini menggunakan daun kolope yang diambil langsung dari hutan oleh perajin. Untuk layangan yang saya gunakan ini, proses pembuatannya memakan waktu lima hari," ceritanya. Proses panjang ini mencakup pengambilan daun di hutan, pengeringan alami, pemilihan bambu straight-grain, hingga perakitan benang-serat yang tahan tegangan. Setiap layangan adalah manifestasi fisik dari pengetahuan ekologis masyarakat Muna.

Lebih dari sekadar artefak, tradisi ini sarat filosofi kehidupan. Masrul menambahkan bahwa Kaghati Kolope mengajarkan harmoni manusia-alam—hanya memetik yang diperlukan, menghormati siklus tumbuh tumbuhan—serta semangat gotong royong karena pembuatan sering melibatkan keluarga atau komunitas. Di era di mana individualisme dan eksploitasi alam marak, nilai-nilai ini justru menjadi relevan sebagai landasan karakter bangsa.

Pemerintah Kabupaten Muna berkomitmen mengampanyekan warisan ini secara masif, tidak hanya sebagai upaya pelestarian defensif, tetapi sebagai strategi pengembangan pariwisata budaya berkelanjutan. Goa Liangkobori yang sudah diakui sebagai cagar budaya berpotensi dikembangkan menjadi destinasi edukasi arkeologi dan budaya hidup (living museum). Visi jangka panjang adalah memposisikan festival ini di panggung nasional hingga internasional, menarik peneliti, fotografer budaya, dan wisatawan khusus yang mencari pengalaman autentik.

Namun, tantangan nyata tetap ada: regenerasi perajin, ketersediaan bahan baku alam yang semakin terbatas akibat perubahan fungsi lahan, serta minat generasi Z yang cenderung ke hiburan digital. Keberlanjutan Kaghati Kolope bergantung pada kebijakan terintegrasi—mulai dari perlindungan hutan sumber kolope, kurikulum muatan lokal di sekolah, hingga insentif ekonomi bagi perajin muda. Jika berhasil, Muna tidak hanya menyelamatkan sebuah mainan tradisional, tetapi membuktikan bahwa kearifan lokal bisa menjadi motor perekonomian kreatif berbasis budaya di era digital.

Mengapa Ini Penting

Kaghati Kolope menunjukkan bagaimana bukti arkeologis (lukisan gua) dapat divalidasi sebagai praktik budaya hidup, menawarkan model pelestarian berbasis bukti ilmiah. Bagi industri kreatif dan pariwisata Indonesia, festival ini membuktikan bahwa warisan material nol-limbah dan filosofi ekologisnya memiliki daya tarik global di era kesadaran iklim. Integrasi kurikulum muatan lokal dan ekonomi kreatif perajin muda menjadi kunci agar tradisi ini tidak hanya jadi nostalgia, tapi motor perekonomian inklusif di daerah.

Sumber Asli
ANTARA News
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit