Amanda Silberling, penulis senior di TechCrunch, memutuskan membeli cincin pintar RingConn 3 sebagai pelacak kesehatan harian pertamanya. Namun, hanya sepuluh hari berselang, ia menyerahkan kembali perangkat tersebut ke kantor pos karena kecewa dengan akurasi data kesehatan yang ditawarkan.
Cincin pintar generasi ketiga dari RingConn ini awalnya menarik perhatian karena desainnya yang ramping dan estetis. Berbeda dengan pelacak kebugaran konvensional yang memiliki layar menyala, RingConn 3 hadir tanpa layar dan menyerupai perhiasan biasa di jari.
Silberling memilih RingConn 3 ketimbang Oura Ring 5 demi menekan biaya. RingConn 3 dibanderol mulai 349 dolar AS, lebih murah daripada Oura yang mencapai 399 dolar AS. Selain itu, Oura mematok biaya langganan bulanan 6 dolar AS agar pengguna bisa mengakses fitur perangkat yang sudah mereka beli, sebuah skema yang dianggap terlalu membebani konsumen.
Faktor estetika menjadi alasan utama Silberling melirik perangkat ini. Dengan ketebalan 2,3 milimeter, RingConn 3 setara dengan Oura Ring 5 dan nyaman dipakai sehari-hari. Material logam sikat pada varian rose gold membuatnya tahan terhadap goresan dan mudah dipadukan dengan cincin lain.
Pasar pelacak kebugaran tanpa layar memang sedang melesat. Riset firma Circana mencatat pengeluaran warga Amerika untuk kategori ini melonjak 88 persen secara tahunan, didorong oleh produk seperti cincin Oura dan gelang Whoop. Konsumen mulai mengincar perangkat yang bisa dipakai pasif tanpa terkesan seperti alat medis di pergelangan tangan.
Bagi pengguna di Indonesia, tren cincin pintar mulai merambah pasar daring meski harganya masih premium. Beberapa distributor lokal memasarkan RingConn dan Oura dengan tambahan margin, membuatnya belum menjadi pilihan massal. Ketertarikan terhadap pelacak kesehatan minimalis terlihat jelas dari banyaknya ulasan di platform media sosial lokal yang membandingkan fungsi perangkat ini dengan smartwatch.
Kegagalan RingConn 3 mendeteksi migrain menunjukkan batasan algoritma pelacak kesehatan konsumer saat ini. Silberling yang mengidap migrain tak terduga berharap notifikasi dini dari variabilitas detak jantung bisa membantunya meminum obat lebih awal. Kenyataannya, saat serangan terparah dalam hidupnya terjadi selama akhir pekan, cincin tersebut justru menampilkan status "kondisi prima".
Di sisi lain, ketergantungan pada intervensi manual juga mengurangi nilai jual perangkat. RingConn 3 hanya mencatat olahraga ketika pengguna benar-benar bergerak melintasi ruang, sehingga jalan dua menit mengambil surat di lobi dicatat sebagai sesi latihan singkat. Situasi ini membuat data olahraga menjadi tidak akurat bagi pengguna yang beraktivitas statis di dalam ruangan.
"Meskipun cincinnya cantik, saya merasa tidak ada alasan untuk memakainya setiap hari jika fitur pendeteksi sakit kepala tidak berfungsi untuk saya," ungkap Silberling dalam catatan pengalamannya. Ia menekankan bahwa estetika saja tidak cukup menjustifikasi pengumpulan data kesehatan pribadi oleh perusahaan teknologi.
Ia juga menyoroti soal masa pakai baterai yang diklaim hingga 14 hari dalam sekali pengisian. Meski Silberling tidak memakai cincin cukup lama untuk memvalidasi klaim tersebut, ia tidak menemukan masalah daya tahan baterai selama masa uji coba singkatnya. Perangkat ini juga tahan air sehingga bisa dipakai berenang.
Ke depan, produsen cincin pintar harus berinvestasi lebih besar pada akurasi sensor dan pembelajaran mesin agar bisa bersaing di segmen kesehatan preventif. Fitur unggulan seperti deteksi migrain tidak boleh sekadar menjadi jargon pemasaran, melainkan alat bantu nyata bagi penderita penyakit kronis.
Pertumbuhan pasar perangkat wearable tanpa layar diprediksi akan terus berlanjut seiring kesadaran masyarakat akan kesehatan. Pengguna perlu menyadari bahwa teknologi pelacak konsumer saat ini masih memiliki celah, dan tidak sepenuhnya bisa menggantikan diagnosis medis profesional.