OpenAI meluncurkan fitur baru bernama Computer History pada aplikasi desktop ChatGPT untuk macOS. Fitur ini mencatat aktivitas klik dan ketikan pengguna guna membangun linimasa kerja yang dapat dirujuk oleh ChatGPT dan Codex saat menerima permintaan. Peluncuran ini menandai langkah OpenAI mendorong AI agar lebih memahami konteks kerja sehari-hari pengguna, bukan hanya merespons perintah terpisah.
Computer History bersifat opt-in, artinya pengguna harus mengaktifkannya secara sadar sebelum data aktivitas mulai dikumpulkan. OpenAI menyediakan kontrol granular: pengguna dapat mengecualikan aplikasi atau situs web tertentu dari pencatatan, serta menghapus entri individu kapan saja. Menurut Ari Weinstein, Manajer Produk dan Rekayasa OpenAI, fitur ini otomatis mengabaikan konten pada tab browser mode incognito atau privat.
Dalam demonstrasi singkat, Dominik Kundel dari tim Developer Experiences OpenAI menunjukkan bagaimana aplikasi mencari dokumen terakhir yang diedit, memeriksa apakah dokumen tersebut dibagikan melalui Slack, serta merangkum aktivitasnya sepanjang pagi. Kemampuan ini mengarah pada visi asisten AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga melengkapi tugas yang tertunda dan mengotomatiskan alur kerja berulang.
Kehadiran Computer History tidak terlepas dari kontroversi serupa yang menghantui Windows Recall Microsoft. Fitur Recall yang diluncurkan tahun lalu menggunakan tangkapan layar berkala untuk membangun linimasa visual, memicu kekhawatiran privasi masif hingga Microsoft menunda peluncurannya. OpenAI mengambil pendekatan berbeda: Computer History tidak merekam gambar, video, atau audio, melainkan mengandalkan "peristiwa" (events) berupa log klik dan ketikan.
Perbedaan arsitektur ini menjadi titik pembahasan krusial di kalangan pakar keamanan siber. Pencatatan berbasis peristiwa dianggap mengurangi risiko kebocoran data visual sensitif seperti kata sandi yang terlihat di layar, dokumen rahasia, atau komunikasi pribadi. Namun, log ketikan sendiri tetap berpotensi mengandung informasi sensitif jika pengguna mengetik kredensial atau data pribadi di kolom yang tidak dilindungi.
Bagi pengguna di Indonesia, peluncuran ini menimbulkan pertanyaan praktis. Aplikasi ChatGPT desktop untuk macOS sudah tersedia secara global, sehingga pengguna Mac di Indonesia dapat mencoba fitur ini begitu dirilis ke saluran stabil. Namun, belum ada jadwal pasti untuk versi Windows. Pengguna Indonesia yang terbiasa dengan ekosistem Apple — mulai dari kreator konten, pengembang perangkat lunak, hingga profesional korporat — akan menjadi segmen pertama yang merasakan manfaat maupun risikonya.
Di sisi industri lokal, fitur ini mempercepat perlombaan asisten AI kontekstual. Perusahaan teknologi Indonesia yang mengembangkan produk produktivitas berbasis AI, seperti platform manajemen proyek atau alat kolaborasi tim, kini menghadapi standar baru: pengguna akan mengharapkan AI yang "mengerti" konteks kerja mereka tanpa perlu diberi konteks berulang. Hal ini mendorong pengembang lokal untuk mempertimbangkan arsitektur serupa sambil mematuhi regulasi Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Kendati demikian, adopsi fitur pencatatan aktivitas di lingkungan korporat Indonesia kemungkinan akan menghadapi hambatan kebijakan keamanan informasi. Banyak perusahaan besar, terutama di sektor perbankan dan keuangan, melarang penginstalan aplikasi yang memonitor aktivitas endpoint tanpa audit keamanan ketat. Tim keamanan informasi (InfoSec) akan menilai apakah arsitektur opt-in dan pengecualian aplikasi memenuhi standar tata kelola data internal.
OpenAI belum mengumumkan kapan Computer History akan tiba di versi Windows, maupun apakah fitur ini akan terintegrasi ke ChatGPT Enterprise dengan kontrol administrasi tingkat organisasi. Pengembangan ke depan kemungkinan akan berfokus pada tiga hal: perluasan cakupan platform, penguatan kontrol privasi untuk memenuhi regulasi global seperti GDPR dan UU PDP Indonesia, serta integrasi yang lebih dalam dengan ekosistem pengembang melalui Codex.
Secara luas, peluncuran Computer History menandai pergeseran paradigma dari AI reaktif — menunggu perintah — menuju AI proaktif yang mempelajari pola kerja pengguna. Bagi pengguna Indonesia, ini berarti peluang produktivitas baru di satu sisi, dan keharusan literasi digital yang lebih tajam di sisi lain. Memahami data apa yang tercatat, bagaimana mengelolanya, dan kapan menonaktifkannya akan menjadi keterampilan esensial di era asisten AI yang "menonton" cara kita bekerja.