Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis varietas unggul purwaceng hasil pemuliaan tanaman untuk mencegah kepunahan spesies endemik yang dijuluki Ginseng of Java tersebut. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Otih Rostiana, menyatakan inovasi ini diperlukan karena populasi alami purwaceng di dataran tinggi Indonesia terus menyusut akibat eksploitasi sebagai bahan obat tradisional.
Purwaceng (Pimpinella alpina) merupakan tanaman herbal endemik yang tumbuh di kawasan pegunungan. Masyarakat mengenalnya sebagai Ginseng of Java karena khasiatnya yang diyakini meningkatkan vitalitas, menjaga kesehatan saluran kemih, serta memperlancar sirkulasi darah. Senyawa bioaktif di dalamnya menjadikan tanaman ini incaran utama produsen jamu dan obat herbal.
Tekanan terhadap populasi liar makin besar seiring naiknya permintaan pasar akan bahan baku herbal. Pengambilan akar di alam tanpa pengendalian membuat spesies ini kini berstatus terancam punah. Kondisi ini mendorong BRIN mengambil langkah ilmiah melalui pemuliaan而非 sekadar pengamanan konservasi statis.
Tim peneliti melakukan seleksi sumber daya genetik, pemurnian galur, hingga menghasilkan varietas dengan karakter genetik lebih stabil. Varietas baru itu memiliki tulang daun berwarna merah keunguan sebagai penanda fisik yang membedakannya dari populasi liar. Kandungan sitosterol pada varietas ini juga lebih tinggi dibandingkan purwaceng alami.
Keunggulan lain terletak pada kemampuan adaptasi. Tanaman hasil pemuliaan dapat dibudidayakan di lokasi dengan ketinggian lebih rendah daripada habitat aslinya. Hal ini membuka peluang perluasan areal tanam di luar dataran tinggi yang selama ini menjadi satu-satunya zona tumbuh purwaceng liar.
Bagi industri herbal domestik, ketersediaan varietas unggul menjadi kabar positif. Selama ini produsen bergantung pada pasokan alam yang fluktuatif dan rawan pemalsuan. Beberapa tanaman seperti Valeriana officinalis, kolesom, dan som jawa kerap diselipkan sebagai purwaceng karena kemiripan bentuk akar, padahal senyawa aktifnya berbeda.
Risiko pemalsuan bahan baku turut mengancam kepercayaan konsumen terhadap produk jamu. Tanpa standardisasi mutu, khasiat yang dijanjikan tidak dapat dijamin konsisten. Otih menekankan bahwa keberhasilan pengembangan purwaceng tidak cukup hanya lewat penciptaan varietas unggul.
Standardisasi mutu bahan baku dinilai sama pentingnya dengan inovasi benih. Identitas tanaman, teknik budi daya, waktu panen, hingga penanganan pascapanen menentukan kualitas akhir produk. Tanpa rantai standar tersebut, varietas unggul sekalipun tidak akan memberi nilai tambah maksimal bagi industri.
“Kami telah menghasilkan varietas unggul yang memiliki karakter genetik lebih baik dan menunjukkan peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas dibandingkan populasi alaminya,” kata Otih dalam keterangan tertulis pada 16 Juli 2026. Ia menambahkan bahwa tantangan berikutnya adalah penyediaan benih dalam jumlah memadai agar petani dapat mengadopsi varietas tersebut secara luas.
Otih juga mengingatkan perlunya budi daya, konservasi, dan standardisasi berjalan beriringan. “Purwoceng masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Karena itu, budi daya, konservasi, dan standardisasi bahan baku harus terus diperkuat agar tanaman ini tetap lestari, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dengan mutu yang terjamin,” ujarnya.
Ke depan, penyediaan benih unggul dalam skala besar menjadi kunci agar purwaceng tidak lagi diambil dari alam liar. Kolaborasi antara BRIN, petani, dan industri pengolah perlu diperkuat agar rantai pasok berbasis budi daya terbentuk. Jika standardisasi berjalan, Indonesia berpeluang menjadikan purwaceng sebagai komoditas herbal bernilai tinggi dengan jaminan khasiat.
Tren penguatan riset tanaman obat lokal seperti purwaceng juga selaras dengan upaya kemandirian farmasi nasional. Pengurangan ketergantungan pada bahan impor dan pelestarian kekayaan hayati menjadi dampak jangka panjang yang tidak kalah penting dari aspek komersial semata.