Organisasi advokasi kepemilikan perangkat Fulu mengumumkan hadiah senilai $10.000 bagi siapa pun yang berhasil menonaktifkan kunci perangkat lunak proprietary Sony pada PlayStation 5. Tujuan dari bounty ini adalah membuka jalan bagi pengguna untuk memasang sistem operasi alternatif seperti Linux, sehingga konsol game tersebut bisa berfungsi sebagai komputer serbaguna.
Fulu tidak hanya menyediakan dana awal $10.000, tetapi juga akan mencocokkan donasi hingga jumlah yang sama, sehingga total hadiah bisa mencapai $20.000. Program ini dipimpin oleh YouTuber Louis Rossmann dan Kevin O’Reilly, seorang aktivis hak konsumen yang membayar bounty pertama untuk memperbaiki termostat Nest milik Google yang usang dan menghilangkan DRM pada pembersih udara Molekule.
Pengumuman ini muncul setelah Sony menyatakan akan menghentikan produksi cakram fisik untuk semua judul game PS5 baru pada awal Juli. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan gamer dan kelompok advokasi yang khawatir hak kepemilikan mereka atas perangkat yang dibeli akan dikurangi secara sepihak. Banyak pemilik PS5 merasa takut bahwa mereka bisa "ditipu" kapan saja.
"Banyak pemilik PlayStation khawatir tentang apa yang akan terjadi pada konsol mereka," kata O’Reilly. "Mereka takut bisa ditipu kapan saja."
Selain masalah hak, O’Reilly juga menyoroti potensi komputasi yang besar pada konsol game. "Konsol game memiliki daya komputasi yang signifikan," katanya. "Mengapa saya tidak bisa menggunakannya untuk coding, menjalankan agentic AI, atau membuat sistem yang saya inginkan? Ini adalah komputer yang saya beli dan saya miliki."
Namun, upaya untuk membuka PS5 tetap berisiko melanggar Section 1201 dari Digital Millennium Copyright Act, undang-undang tahun 1998 yang melarang penghindaran kunci digital. Pelanggaran dapat berakibat pada denda atau bahkan hukuman penjara. Fulu memungkinkan pemenang bounty untuk menyimpan perbaikan mereka secara pribadi jika khawatir menghadapi konsekuensi hukum, sehingga jailbreak mungkin tidak akan tersedia untuk umum.
"Hak kepemilikan kita terus diserang," lanjut O’Reilly. "Sudah saatnya kita membahas kembali bahwa komputer adalah komputer, dan kita harus bisa menggunakannya sesuai keinginan kita."
Di Indonesia, PS5 memiliki basis pengguna yang cukup besar, terutama di kalangan gamer muda dan komunitas modding lokal. Banyak pengguna di sini sudah bereksperimen dengan modifikasi firmware pada konsol dan smartphone Android untuk menghilangkan bloatware atau mengizinkan instalasi aplikasi dari sumber eksternal. Kasus serupa juga muncul pada perangkat Android lokal, di mana produsen sering kali membatasi instalasi aplikasi pihak ketiga, memicu perdebatan tentang hak konsumen.
Louis Rossmann, yang juga aktif di gerakan right-to-repair, menekankan bahwa upaya ini bukan hanya tentang PS5, tetapi tentang mendorong dialog yang lebih luas mengenai kontrol perangkat. "Kita perlu mengingatkan produsen bahwa perangkat yang kita beli adalah milik kita," katanya.
Dari sudut pandang industri, tekanan ini bisa mendorong Sony untuk mempertimbangkan kembali kebijakan DRM yang ketat atau bahkan menawarkan jalur resmi untuk instalasi sistem operasi alternatif. Bagi pengembang independen di Indonesia, akses ke platform terbuka seperti PS5 yang dimodifikasi bisa menjadi laboratorium pengujian yang murah untuk eksperimen pada teknologi AI atau pemrosesan grafis.
Ke depannya, gerakan seperti Fulu mungkin akan semakin berpengaruh seiring dengan meningkatnya kesadaran akan hak kepemilikan perangkat. Jika berhasil, bounty PS5 bisa menjadi katalisator bagi perubahan kebijakan yang lebih luas, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di pasar lain seperti Indonesia, di mana perlindungan hak konsumen masih dalam tahap pengembangan.
Pada akhirnya, hadiah $10.000 ini lebih dari sekadar uang; ini adalah pernyataan bahwa kontrol atas perangkat yang kita miliki adalah hak dasar. Dengan mendorong percakapan ini, Fulu berharap dapat mengembalikan konsep bahwa komputer—baik itu PC, konsol, atau perangkat lainnya—adalah alat yang bisa kita manfaatkan sepenuhnya, bukan paket tertutup yang dikendalikan oleh produsen.
Artikel ini menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan kebebasan pengguna, sebuah isu yang relevan baik di pasar global maupun di pasar Indonesia yang terus berkembang.