Bose, merek audio ikonik yang telah mendominasi pasar headphone dan speaker selama enam dekade, kini sedang menelusuri jalannya transformasi bisnis yang radikal. Di bawah kepemimpinan CEO Lila Snyder, perusahaan yang didirikan 60 tahun lalu ini tidak lagi hanya menjual produk end-user, tetapi juga memperluas sayapnya ke dunia B2B melalui divisi teknologi audio baru.
Pada minggu ini, Snyder memberikan wawancara eksklusif kepada The Verge mengungkapkan visi baru Bose sebagai produsen teknologi, bukan sekadar merek konsumen. “Kami telah memasuki bab kedua transformasi Bose,” ujarnya. “Fokus pada riset dan inovasi tetap kami jaga, namun kami kini menempatkan teknologi kami di tempat-tempat yang lebih luas.”
Transformasi ini mencakup tiga langkah strategis utama. Pertama, Bose menjual divisi profesionalnya, Bose Professional. Kedua, mereka mengakuisisi dua merek audio premium — McIntosh Labs dan Sonus faber — yang membuka pintu ke pasar luxury audio. Ketiga, dan paling penting, Bose meluncurkan program licensing teknologi audio kepada perusahaan lain.
Dengan pendekatan ini, konsumen tetap bisa membeli produk Bose asli seperti headphone atau soundbar, namun mereka juga bisa menemukan teknologi Bose tersemat di berbagai perangkat dari merek lain. “Suara semakin penting di era digital,” terang Snyder. “Banyak perangkat yang membutuhkan kemampuan audio tinggi, tetapi tidak selalu ditujukan bagi kami untuk membuatnya.”
Audio Tech, divisi baru Bose, kini menjadi mitra bagi perusahaan besar seperti Motorola, Xreal, dan Sena. Contohnya, Bose bekerja sama dengan Motorola untuk meningkatkan kualitas suara pada seri earbuds hingga perangkat ponselnya. Di sisi lain, teknologi noise-canceling dan pengolahan suara Bose kini hadir dalam kacamata XR dari Xreal.
“Ini menciptakan ruang bagi kami untuk lebih berinovasi,” papar Snyder. “Kami tidak lagi terbatas pada satu bentuk faktor. Kami bisa mengeksplorasi penggunaan suara di berbagai konteks baru.”
Perubahan ini juga mencerminkan respons terhadap ancaman teknologi AI wearable yang semakin dekat. Snyder menegaskan bahwa Bose tidak hanya bereaksi, tetapi sedang mempersiapkan strategi jangka panjang agar tetap relevan di tengah persaingan ketat dengan merek smartphone seperti Apple dan Samsung.
Bagi pasar Indonesia, langkah Bose ini menandai pertanda bahwa teknologi audio premium semakin democratized. Konsumen lokal kini bisa mengakses kualitas suara Bose melalui berbagai perangkat — dari headphone hingga speaker mobil — tanpa harus membeli merek aslinya. Hal ini membuka peluang bagi produsen lokal untuk berkolaborasi dengan Bose guna menghadirkan pengalaman audio berkualitas tinggi di perangkat mereka.
Namun, tantangan tetap ada. Menjadi perusahaan yang sekaligus produsen hardware dan penyedia solusi software/audio membutuhkan restrukturisasi organisasi yang signifikan. “Kami sedang membangun tim teknologi terpusat yang bisa melayani baik produk internal maupun eksternal,” jelas Snyder.
Ke depan, Bose berencana memperluas jaringan partner globalnya. Teknologi noise-canceling, pengolahan suara, dan AI-driven audio processing akan terus dikembangkan dan dilisensikan ke berbagai sektor — mulai dari hiburan hingga industri otomotif dan kesehatan.
Snyder menutup dengan optimisme: “Kami ingin membuktikan bahwa Bose bukan sekadar merek yang kita kenal, tetapi fondasi teknologi yang mewujudkan pengalaman suara yang luar biasa di mana saja.”