Bethesda Game Studios merilis peta jalan pengembangan sejumlah waralaba utamanya, termasuk Fallout dan The Elder Scrolls, di tengah restrukturisasi besar-besaran di divisi game Microsoft yang memangkas 3.200 pekerja. Pengumuman tersebut menjadi penjelasan resmi pertama mengenai nasib sejumlah proyek menyusul gelombang pemutusan hubungan kerja yang menyentuh studio-studio di bawah naungan Xbox.
Dalam pernyataan tertulisnya, Bethesda memastikan bahwa Fallout 5 tengah berada dalam tahap praproduksi. Studio juga menyiapkan versi remaster dari Fallout 3 dan Fallout: New Vegas. Obsidian Entertainment, studio yang sebelumnya menangani Fallout: New Vegas, kembali digandeng untuk menggarap game Fallout baru yang belum diumumkan judulnya. Langkah ini muncul setelah Xbox membatalkan sekuel Avowed dan beberapa proyek internal Obsidian lainnya.
Bethesda tidak meninggalkan Fallout 76. Game bertema dunia terbuka tersebut masih mendapat pembaruan berkala. Ekspansi besar yang berfungsi sebagai prekuel Fallout 3 dijadwalkan meluncur tahun depan, sekaligus menjadi ajang pemanasan sebelum versi remaster Fallout 3 dirilis. Fallout Shelter juga akan kedatangan musim baru, serta acara televisi nonfiksi berbasis game mobile tersebut sedang dalam proses produksi.
Fokus utama Bethesda saat ini tertuju pada The Elder Scrolls VI. Mayoritas tim pengembang saat ini ditugaskan untuk menyelesaikan babak berikutnya dari waralaba tersebut. Bethesda mencatat bahwa Skyrim telah terjual lebih dari 65 juta kopi dan masih dimainkan hingga 15 tahun sejak peluncurannya, meski penggemar menanti sekuelnya dalam waktu sangat panjang. Mantan kepala Xbox Phil Spencer menyatakan pada 2023 bahwa game tersebut baru akan hadir dalam waktu minimal lima tahun, sehingga peluncurannya diperkirakan tidak sebelum 2028.
Starfield tetap menjadi bagian penting dalam rencana Bethesda ke depan. Studio berencana menghadirkan cerita baru, penyempurnaan mekanisme permainan, dan pembaruan tambahan. Konten bertajuk Starborn akan diluncurkan tahun depan sebagai kelanjutan dari ekosistem game tersebut. Pernyataan ini menepis spekulasi bahwa Starfield ditinggalkan setelah mendapat respons beragam dari pemain.
Restrukturisasi Xbox berdampak langsung pada tenaga kerja Bethesda. Puluhan karyawan Bethesda terkena pemutusan hubungan kerja. ZeniMax Online Studios, pengembang The Elder Scrolls Online, kehilangan 213 pekerja di lokasi Maryland. Jumlah staf yang tersisa kini berada di angka 186 orang, sekitar 40 persen dari total karyawan pada awal 2025. ZeniMax Online akan tetap menggarap game mereka sambil berkolaborasi dalam proyek Elder Scrolls lainnya.
Microsoft memangkas 1.600 pekerjaan pada awal Juli dan berencana mengurangi jumlah serupa dalam satu tahun ke depan. Serikat pekerja game di Amerika Serikat dan Kanada menuduh Microsoft melakukan praktik ketenagakerjaan tidak adil, termasuk bargaining tidak dengan itikad baik dan tidak memberikan pemberitahuan layak kepada pekerja. Ratusan karyawan melakukan protes di berbagai lokasi studio, termasuk di kantor Bethesda.
Todd Howard, sosok kunci di balik Bethesda, mengaku lebih suka tidak membicarakan proyek studio sebelum hampir siap rilis. Namun, ia menyadari pentingnya memberikan gambaran kepada penggemar. "Kami sadar perlu memberi tahu lebih banyak agar penggemar paham apa yang kami kerjakan dan mengapa, sambil menjaga momen saat game benar-benar bisa dimainkan," ujar Howard merujuk pada keterangan yang disampaikan kepada Bloomberg.
Bagi penggemar di Indonesia, berita ini relevan karena komunitas game RPG Barat tumbuh pesat di dalam negeri. Fallout dan The Elder Scrolls termasuk dalam daftar favorit pemain lokal yang mengakses platform Steam dan Game Pass. Pemangkasan karyawan di level global berpotensi memperlambat kualitas pelokalan bahasa dan dukungan server regional, meski distribusi digital membuat game tetap bisa diunduh tanpa hambatan.
Industri game Indonesia sendiri belum memiliki waralaba sekelas Fallout yang bertahan lintas generasi. Studio lokal seperti Agate atau Lyto lebih fokus pada game kasual dan mobile. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekosistem game berat di Tanah Air masih bergantung pada penerbit internasional, sehingga gejolak di Xbox berdampak langsung pada akses dan harga langganan pemain Indonesia.
Ke depan, Bethesda akan menjaga keseimbangan antara merilis pembaruan game yang sudah ada dan mempersiapkan proyek-proyek besar. The Elder Scrolls VI dipastikan menjadi prioritas utama hingga akhir dekade ini. Sementara itu, gelombang protes dan tuntutan serikat pekerja dapat memengaruhi cara Microsoft mengelola studio akuisisinya, termasuk transparansi roadmap ke depan.
Tren konsolidasi dan efisiensi di industri game global diprediksi berlanjut. Pemain di Indonesia perlu bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga layanan langganan atau penundaan peluncuran game akibat keterbatasan sumber daya manusia di studio pengembang. Peta jalan Bethesda menjadi gambaran bahwa kualitas game besar kini dipertaruhkan demi efisiensi perusahaan induk.