Bendung Katulampa di Kota Bogor mencatat tinggi muka air nol sentimeter pada Jumat, 17 Juli 2026, akibat musim kemarau yang menekan debit Sungai Ciliwung ke level terendah. Petugas lapangan tetap menjalankan pemantauan 24 jam untuk mengantisipasi perubahan tiba-tiba di hulu meski aliran sungai nyaris terputus.
Penurunan drastis pada tinggi muka air tersebut terjadi seiring surutnya pasokan dari kawasan hulu Ciliwung. Minimnya curah hujan selama beberapa pekan terakhir membuat volume air yang masuk ke bendung terus menyusut hingga berada di angka nol. Kondisi serupa juga terekam dalam data Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jakarta pada waktu yang sama.
Muhamad Alwan, petugas Bendung Katulampa, menyatakan bahwa surutnya air sungai merupakan dampak langsung dari kemarau yang melanda wilayah Bogor dan Puncak. Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, dalam beberapa waktu terakhir dilaporkan mengalami hari tanpa hujan. Hal itu memutus rantai aliran yang biasanya mengisi bendung dari arah pegunungan.
Bendung Katulampa merupakan titik pemantauan utama di Sungai Ciliwung. Pos ini menjadi rujukan awal bagi pemerintah dan badan penanggulangan bencana dalam menentukan status siaga banjir untuk wilayah hilir, termasuk Jakarta. Data tinggi muka air digunakan sebagai acuan langkah antisipasi apabila debit mulai naik.
Kemarau yang meluas tidak hanya terjadi di Jawa Barat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui Direktorat Meteorologi Publik pada 16 Juli 2026 mengumumkan bahwa cuaca Indonesia secara umum masih didominasi hujan intensitas rendah selama sepekan ke depan. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
BMKG mencatat potensi curah hujan intensitas rendah muncul di 76,54 persen wilayah Indonesia pada dasarian ketiga Juli 2026. Angka itu naik dari 72,38 persen pada dasarian pertama bulan yang sama. Sepanjang 10 hari pertama Juli, sifat hujan di 70 persen wilayah tergolong di bawah normal.
Fenomena tersebut sejalan dengan perkuatan El Nino yang disebut terus mengalami signifikansi sejak pertengahan Mei lalu. Pola ini memperkecil peluang hujan di berbagai daerah dan memperpanjang durasi kemarau. Bagi sistem hidrologi Ciliwung, El Nino menjadi pendorong utama berkurangnya debit sungai di level hulu.
Meski bendung dalam posisi kering, Alwan menegaskan bahwa aktivitas pemantauan tidak dihentikan. Petugas secara berkala mengawasi perubahan tinggi muka air untuk mendeteksi hujan mendadak di Puncak maupun Bogor. Cuaca ekstrem di hulu kerap memicu lonjakan debit dalam waktu singkat meski sedang kemarau.
"Jika hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah Puncak dan Bogor, debit Sungai Ciliwung berpotensi meningkat dalam waktu singkat," kata Alwan. Ia menambahkan, informasi kenaikan status akan diteruskan kepada pemerintah daerah, BPBD, dan instansi terkait sebagai bagian dari sistem peringatan dini.
Masyarakat yang bermukim di sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung diimbau memantau informasi resmi mengenai cuaca dan tinggi muka air. Peringatan dini dari Katulampa memiliki peran krusial mengingat Jakarta kerap menjadi titik akhir kiriman air dari Bogor saat banjir terjadi.
Ke depan, petugas akan mempertahankan skema jaga 24 jam selama kemarau berlangsung. BMKG memproyeksikan hujan intensitas rendah masih mendominasi, namun potensi hujan lokal di pegunungan tetap terbuka. Sistem pemantauan bendung menjadi penyangga pertama sebelum alat sensor hilir di Jakarta mengambil alih rekam debit.
Langkah antisipasi tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur pengawas banjir tidak boleh bergantung pada musim. Data nol sentimeter hari ini bukan berarti risiko hilang, melainkan fase istirahat sistem yang wajib tetap aktif menyimpan informasi dasar untuk respon cepat saat hujan tiba.