Pemerintah daerah di Swiss tengah menghadapi sorotan publik terkait kebijakan pemasangan pendingin udara tetap yang selama ini sangat dibatasi. Gelombang panas yang semakin sering melanda Eropa membuat negara yang biasanya identik dengan musim dingin ini harus mempertimbangkan relaksasi aturan yang dirasa sudah tidak relevan.
Di Kanton Jenewa, misalnya, pemasangan sistem AC permanen kerap membutuhkan justifikasi medis bagi pemilik rumah. Kanton tersebut dikenal sebagai wilayah dengan regulasi paling ketat di negara tersebut. Sementara di Zurich, kanton berpenduduk terpadat, izin konstruksi menjadi syarat wajib karena unit kompresor luar ruangan dianggap mengubah tampilan fasad bangunan.
Akar pembatasan ini bermula dari desain rumah tradisional Swiss yang dibangun untuk menyimpan kehangatan, bukan menolak panas. Selama puluhan tahun, pendingin udara dianggap barang mewah yang tak perlu di negara dengan musim dingin panjang. Namun asumsi itu runtuh seiring perubahan iklim yang membuat musim panas di area padat penduduk makin menghangat, termasuk suhu malam hari yang tetap tinggi.
Kekhawatiran lingkungan menjadi pilar utama penolakan AC. Otoritas menilai perangkat tersebut boros energi dan bertentangan dengan target pengurangan emisi. Kanton Vaud bahkan pernah menyandingkan izin pendingin dengan syarat pembangkit energi terbarukan. Pendekatan berbasis ideologi lingkungan ini dominan di kanton berbahasa Prancis.
Sebaliknya, kanton berbahasa Jerman cenderung fokus pada standar teknis dan efisiensi. Struktur federal Swiss memberi wewenang luas kepada masing-masing kanton untuk mengatur hukum konstruksi, energi, dan lingkungan. Hal ini menciptakan regulasi yang tidak seragam: Aargau, Thurgau, dan St Gallen lebih pragmatis meski batas kebisingan tetap berlaku.
Bagi industri teknologi pendingin, kebijakan di Swiss menunjukkan ironi regulasi. Pembatasan AC efisien justru mendorong warga beralih ke unit portabel yang kurang efisien, lebih berisik, dan memakan listrik lebih banyak. Kritikus menyebut ini konsekuensi tak terduga yang memperparah beban emisi.
Di Indonesia, permintaan AC meningkat seiring urbanisasi dan panas ekstrem, namun regulasi efisiensi masih longgar. Mayoritas rumah tangga menggunakan AC split tanpa kewajiban standar ketat seperti di Eropa. Pengalaman Swiss mengingatkan bahwa larangan atau pembatasan tanpa alternatif ramah lingkungan justru bisa memicu penggunaan perangkat boros energi ilegal atau portable.
Produsen lokal dan regional dapat mengambil peluang dengan menawarkan sistem pendingin reversibel seperti heat pump yang efisien untuk pemanas sekaligus pendingin moderat. Vaud telah melonggarkan aturan untuk perangkat jenis ini. Indonesia dengan iklim tropis bisa mengadopsi insentif serupa agar konsumsi listrik tak melonjak saat gelombang panas.
"Pembatasan sistem tetap yang efisien telah mendorong banyak warga membeli AC portabel yang umumnya kurang efisien, lebih berisik, dan menghabiskan lebih banyak listrik," demikian catatan pengamat yang mengkritik kebijakan tersebut. Di Zurich, proses perizinan acap melibatkan studi akustik dan laporan teknik yang memakan waktu berbulan-bulan.
Perspektif teknokratis Zurich menunjukkan bahwa alih-alih larangan ideologis, penetapan standar kebisingan dan efisiensi bisa jadi jalan tengah. Pendekatan ini memungkinkan warga mendapatkan kenyamanan sambil menjaga lingkungan. Namun tetap membutuhkan birokrasi yang tak ringan bagi pemohon.
Tekanan untuk merelaksasi aturan diprediksi makin kuat seiring musim panas yang lebih panjang dan panas. Kanton Vaud sudah mulai menyesuaikan aturan dalam beberapa tahun terakhir. Kanton lain mungkin menyusul sebelum dekade ini berakhir.
Warga Swiss saat ini masih banyak mengandalkan kipas angin, jendela penutup, dan unit portabel. Namun adaptasi terhadap iklim baru tak terhindarkan. Swiss terjebak dalam dilema Eropa: AC berkontribusi pada emisi sekaligus menjadi alat bertahan hidup dari ekstrem panas.