Kolom Tekno

Asus Rilis Versi Standalone ROG Ally Layar OLED, Tanpa Bundel AR

Ringkasan

  • Asus mengonfirmasi akan merilis ROG Ally versi OLED dalam bentuk standalone tanpa bundel kacamata AR.
  • Dalam sesi hands-on, perangkat ini menunjukkan kualitas layar superior dan peningkatan kenyamanan dibanding pesaing.

Asus memastikan akan menjual ROG Ally versi layar OLED secara terpisah tanpa harus dibundel dengan kacamata augmented reality (AR). Juru bicara Asus, Anthony Spence, menyatakan kepada The Verge bahwa perusahaan sedang membahas jadwal rilis versi standalone dan akan mengumumkannya dalam waktu dekat.

Kepastian ini muncul setelah sebelumnya Asus memperkenalkan versi OLED sebagai paket dengan kacamata AR yang membuatnya kurang fleksibel. Kini, gamer bisa mendapatkan perangkat genggam dengan layar 7,4 inci OLED tersebut tanpa tambahan yang mungkin tidak diinginkan.

Dalam uji coba langsung di kantor Asus California, layar 7,4 inci OLED dengan resolusi 1080p dan puncak kecerahan 1.400 nit ini disebut mampu mengalahkan kualitas tampilan kompetitor. Meski ukurannya lebih kecil dari Legion Go 2 atau MSI Claw 8 EX, lapisan anti-silau membuatnya jauh lebih jelas di ruangan dengan pencahayaan atas yang keras.

Layar ini juga mendukung refresh rate variabel 30–120Hz yang lebih lebar dibanding 48–120Hz pada kebanyakan handheld lain. Artinya, game dengan frame rate rendah pun tetap terasa mulus. Hal ini menjadi keunggulan dibanding Claw 8 EX yang masih menggunakan panel IPS 500 nit dan rentang VRR lebih sempit.

Dari segi ergonomis, Asus menambahkan grip berbahan karet yang empuk, menggantikan plastik tekstur pada model sebelumnya. Tombol ABXY baru terasa lebih halus dan senyap, serta tidak lagi menonjol saat ditekan. Yang paling menarik, tombol "Library" yang sering tidak sengaja tertekan kini digantikan oleh tombol "Action" yang lebih fungsional untuk mengambil tangkapan layar.

Fitur unik lainnya adalah D-pad yang bisa diubah dari mode delapan arah menjadi empat arah dengan memutar bagian atasnya. Mekanisme ini terbukti berguna dalam game seperti Hollow Knight: Silksong untuk memudahkan serangan diagonal. Meski terkesan sepele, perubahan ini memberikan perbedaan signifikan dalam kontrol.

Soal performa, Asus belum mengizinkan pengujian benchmark penuh. Namun, dalam percobaan dengan Cyberpunk 2077 dan Returnal pada daya 25 watt, MSI Claw 8 EX unggul dengan rata-rata 61–62 fps dibanding 41–44 fps pada Ally OLED. Keduanya mengonsumsi daya sekitar 36 watt dengan baterai 80 Wh yang diperkirakan bertahan sekitar dua jam.

Meskipun kalah performa mentah, ROG Ally versi OLED memiliki kelebihan lain. Layar OLED dengan VRR 30Hz mampu menyajikan visual lebih halus meski fps rendah. Ditambah lagi, driver Intel pada Claw EX masih menghadapi masalah optimasi yang dapat memengaruhi pengalaman pengguna. Dengan kata lain, performa puncak tidak selalu menjamin pengalaman yang lebih baik.

Bagi pasar Indonesia, kehadiran ROG Ally versi OLED menjadi angin segar. Komunitas handheld gaming di Tanah Air semakin berkembang, dan perangkat seperti Steam Deck mulai populer. Asus sendiri sudah menjual ROG Ally X di Indonesia dengan harga kompetitif. Kehadiran versi OLED dengan layar superior bisa menjadi pilihan menarik, terlebih dengan opsi standalone yang seharusnya lebih terjangkau.

Namun, harga pasti belum diumumkan. Mengingat ROG Ally X saat ini dibanderol sekitar USD 1.000, versi OLED kemungkinan akan lebih mahal. Meski begitu, kualitas layar dan kenyamanan yang ditawarkan bisa menjadi nilai jual utama bagi gamer yang mengutamakan pengalaman visual di atas segalanya.

Anthony Spence menambahkan, "Kami secara aktif mendiskusikan jadwal rilis untuk versi standalone dari Ally baru. Nantikan pengumuman selanjutnya." Ini menandakan Asus serius merespons masukan konsumen yang menginginkan fleksibilitas.

Ke depannya, Asus tampaknya ingin menyempurnakan formula handheld gaming mereka alih-alih sekadar mengejar performa. Dengan layar OLED yang memukau, peningkatan ergonomis, dan fitur inovatif seperti D-pad transformasi, Ally generasi baru ini berpotensi menjadi pilihan utama bagi mereka yang mengutamakan kenyamanan dan kualitas layar. Jika dirilis dengan harga masuk akal, bukan tidak mungkin perangkat ini akan menjadi primadona baru di kelasnya.

Mengapa Ini Penting

Bagi gamer Indonesia, langkah Asus ini menegaskan bahwa pasar handheld premium mulai diperhatikan serius. Layar OLED anti-silau sangat relevan untuk kondisi tropis dengan pencahayaan tinggi. Opsi standalone membuat perangkat lebih bisa dijangkau, memicu kompetisi harga yang sehat. Tekanan pada kompetitor untuk meningkatkan kualitas layar dan ergonomis juga akan menguntungkan ekosistem handheld lokal. Ke depannya, pengguna Indonesia bisa menikmati perangkat genggam dengan kualitas visual setara laptop gaming, tetapi dalam bentuk yang lebih portabel.

Sumber Asli
The Verge
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit